Catatan Betmen

Showing posts with label Kolom. Show all posts
Showing posts with label Kolom. Show all posts

May 30, 2015

Dia Akan Menjemputmu

google image
Hidup di dunia ini hanya sebentar saja, sungguh maut akan menjemput, membawa kita menuju kehidupan yang dijanjikan.

Hari ini mungkin mereka, dia atau siapa saja dipanggil kembali oleh Allah Swt., mungkin sebentar lagi, esok atau lusa giliran kita akan datang. Tidak ada yang tau pasti kapan maut memanggil kita.

Ah, seandainya saja kita tau berapa nomor antri kita, mungkin kita bisa bersiap, bertobat meminta maaf pada semua yang pernah kita dhalimi baik dengan lisan maupun perbuatan.

Seandainya saja kita tau hitungan nafas yang tersisa, mungkin kita akan islah, memohon pinta-pinta keampunan, husnul khatimah pada Allah pemilik hidup kita.

Tuan, lidah tak bertulang. Mungkin kemarin, hari ini atau bisa jadi esok. Kita menyakiti makhluk tuhan, yakinlah pada waktunya kita akan menerima balasannya.

Kawan, percayalah Tuhan tidak akan pernah terdhalimi dengan maksiat yang kita kerjakan, justru sebaliknya. Kemaksiatan yang kita kerjakan, akan bersarang bersama kita hingga hari pembalasan kelak.

*"Innallaha yuhhibbut tawwabina wa yuhibbul muthathahhirin".

Teruslah bermuhasabah. Pintalah maaf, berilah kemaafan. Semoga Allah mengampuni kita atas segala khilaf yang hamba kerjakan, dan mengumpulkan kita kelak bersama orang-orang yang diridhai-Nya.

*Allahumma innaka a'fuwun karim halim, tuhibbul afwa fa'fu anna ya karim!

Ya karim... ya Halim...!

Damai?

google image
Mereka (baca; muallaf) damai dengan berislam, mengambil berbagai resiko hidup, masa depan bahkan dengan keluarga mereka sendiri. Karena mereka merasa mendapatkan kedamaian dengan memilih Islam sebagai punca guide of life.

Mereka lahir dan besar dalam komunitas non-Islam (gelap dan kosong). Berusaha mencari cahaya untuk mengisi kekosongan hidup dan hati. Setelah berislam, hidup yang tadinya kosong terisi. Mereka menemukan arti dan tujuan hidup. Mereka mengikuti guide yang Allah tetapkan. Mereka damai!

Nah tanyakan pada kita, apakah kita yang lahir dan besar dengan komunitas Islam, merasa damai seperti yang mereka rasa. Tanya kenapa?

Munajat

google image
"Apa yang mengisi ruang hati manusia, kesanalah ia akan bermunajat".

Seorang hamba yang hatinya diisi oleh kecintaan kepada Allah Swt. akan selalu melihat dunia sebagai ladang 'liqa illah'. Ketika nafsunya mengajak bermaksiat, akan tertahan dengan panggilan takut akan azab Allah.

Pun begitu, jika hati kita diisi oleh kecintaan kepada hamba Allah (baca; perempuan). Maka seisi tubuh bergerak mengikuti irama yang didendangkan sang hati. Bahkan mungkin ketika orang tua menasehatinya, panggilan mereka tidak lagi berwujud dimata dan telinganya.

Lihat saja katagori lain, kita manusia yang ruang hatinya dipenuhi angan-angan harta, kekayaan, pangkat, jabatan dan lain sebagainya. Mereka akan bergerak, mengalir bermunajat kepada apa yang terisi di hatinya.

Semoga kita selalu berusaha mengisi hati dengan kecintaan kepada-Nya, agama-nya, halaqah Al-Qur'an, Halaqah Hadis dan Majelis Ilmu.

*Allahummaj'alna minattauwabina waj'alna minal muthatahhirin wajalna min i'badika asshalihin.

Ayo Berakhlaq!

google image

Akhlak bisa menembus dimensi apapun, terhadap siapapun dan diwaktu kapanpun. Manusia yang berakhlak baik disayang Allah Swt. Juga disayang oleh hamba-nya.

Bahkan manusia yang hatinya keras bisa membedakan akhlak yang baik dan akhlak yang kurang baik. Ayo kita sama-sama berusaha mencontohi akhlak Rasulullah Saw.

Jul 4, 2014

Belpres

google image
Besok pemilu! Pemilihan presiden, dalam katagori pemilihan presiden (pilpres) saya memberikan sedikit ruang untuk melihat kemungkinan untuk mencoblos di hari pemilu. Khusus untuk presiden kali ini, saya memberikan sedikit waktu. Mencoba memberikan, begitu maksudnya.

Sudah dua kali pemilu saya memilih alpa. Terkhusus untuk pemilihan presidennya. Kalau untuk perwakilan DP Luar Negeri memang di luar agenda. Tak satupun manusia-manusia yang bergambar di kertas mahal tersebut saya kenal. Jadi saya memilih agenda lain daripada berhadir ke TPU.

Pilpres kali ini saya mencoba memberi ruang untuk meyakinkan diri sendiri bahwa saya harus ikut serta memberikan suara milik saya. Siapa tau dengan keikutsertaan saya sedikit tidaknya akan menambah rasa percaya saya untuk pemimpin kita dimasa depan.

Idealnya setiap calon membuat banyak-banyak sukuran bersama-sama anak yatim dan fakir miskin. Membantu sekolah-sekolah anak-anak terlantar dan panti-panti jompo. Begitu sejatinya manusia yang akan saya coblos pada pemilu kali ini.

Atau relawannya membuat terobosan-terobosan seperti Konser Amal Untuk Menyekolahkan Anak Jalanan (KAUMAJ), atau Sehari Membersihkan Kota (SMK) atau memberikan kesejahteraan masyarakat kecil, seperti Sekarung Beras Untuk Fakir-miskin (SBUF) dan lain sebagainya.

Ini kan lagi bulan puasa, bulan ramadhan. Toh kalaupun presiden mereka tidak terpilih setelah membuat manuver-manuver yang tersebut diatas. Mereka akan dapat pahala karena bersedeqah apalagi bulan ramadhan (terlepas dari faktor lain). Pahalanya bakalan berlipat ganda. Sungguh banyak sekali keutamaan bagi orang yang bersedeqah.

Pilpres kali ini dua kubu, hanya dua kubu. Satunya PRBW-HT satunya lagi JKW-JK, hah! Dua-duanya punya kelebihan dan dua-duanya punya kekurangan. Dan begitulah setiap manusia punya masa lalu, dan sebaiknya kita memikirkan masa depan (kawan saya yang bilang begitu).

Bagi saya kedua kubu merupakan sosok, baik itu sosok yang akan memperbaiki bangsa atau menjadi lintah baru penghisab darah rakyat, APBN, proyek-proyek rekayasa. Keduanya punya potensi!

Mungkin kedua sosok Capres dan Wapres diatas baik mereka sediri atau pendukung keduanya/relawan keduanya sedikit banyak  sudah banyak melakukan maneuver-manuver yang saya cita-citakan. Bisa jadi tidak terlalu terpublis di sosmed. Karena berita nya sik-asik berbagi tentang keburukan-kebaikan-dan fitnah gila. Haha!

Saya memang punya pilihan. Namun tetap saja, rekayasa psy war yang dikembangkan kedua kubu tidak menyenangkan sama sekali. Dan mereka sedikitpun tidak menunjukkan proses demokrasi yang sehat, santun dan berkahlaq.

Cuma satu harapan anak muda kali ini. Siapapun yang terpilih, kita harus tetap dewasa. Menerima hasil pilpres dengan lapang dada. Walaupun tokoh yang kita usung tidak berhasil menguasai kursi kerajaan.

Tetap membumi, mendukung presiden terpilih dan beraktifitas layaknya warga biasa yang baik, bersama-sama membangun endonesia raya. Karena harapan itu masih ada pada kita, bukan pada mereka.

Selaku warga Negara Indonesia (masih) saya beserta keluarga mengucapkan kepada seluruh warga Negara IND dimanapun anda berada. Selamat menunaikan ibadah puasa, Kullu sanah wa antum minatthayyibin!




Mar 21, 2014

Ishlah. Catatan Maret (Memperbaiki Kesemrautan)

google Image
"Menurutmu bagaimana cara memperbaiki kesemrautan dalam sebuah kampung?" Tanya Shalah kepada kawannya.

"Tentu saja dengan cara membersihkan seisi kampung" Jawab si Kawan.

"Maksud anda?" Shalah kembali bertanya.


"Begini ya, pertama kita harus mensosialisasikan kepada masyarakat. Kemudia mengajarkan kepada mereka mengenai pentingnya keteraturan. 

Yang lebih pentingnya kita harus mengajarkan generasi (red. pemuda, anak-anak) di dalam masyarakat tersebut mengenai keteraturan sehingga masalah seperti itu bisa bertahan dalam jangka waktu lama. Jadi kita tidak berkutat dengan pekerjaan yang sama setiap tahun."

"Berarti bukan dengan marah-marah ya? Tanya si Shalah lagi.

"Tentu saja, jawabnya.

"Bukan dengan mengumbar aib orang kampung yang tidak teratur, bukan dengan menyebarkan isu-isu yang tidak kita ketahui kebenarannya tentang keburukan anak tetangga, mengupat, melaknat manusia yang tidak berlaku teratur". Tambahnya.

"Benar."

"Atau mencari tau keburukan pribadi-pribadi mereka, istri mereka, anak mereka, orang tua mereka bahkan sesuatu yang punya hubungan dengan keluarga mereka! Supaya mereka malu dan mau hidup teratur!

"Iya!

"Atau dengan mengagungkan kehebatan kampung tetangga sekaligus dengan menjatuhkan dan melecehkan kampung sendiri sebagai kampung kotor, tidak terurus dan tidak teratur. Lalu mereka secara serentak akan berubah untuk teratur." 

Apa maksud kamu mengatakan seperti itu? Tanya si Kawan.

Pertama, tidak layak kita marah-marah kepada masyarakat yang tidak teratur. Bisa jadi mereka memang belum tau, mungkin mereka selama hidupnya belum pernah sekalipun pun tahu tentang keteraturan. Belum meilhat dunia yang teratur, selayaknya kita menjelaskan terlebih dahulu mengenai apa itu keteraturan, kebersihan dan ketentraman. 

Lalu mengajak mereka sedikit demi sedikit pentingnya menjaga hal tersebut bukan dengan memarahi tanpa memahamkan masalah.

Kedua, megumbar aib adalah perbuatan yang dilarang dalam bermasyarakat. Bukankah tujuan kita mengajak masyarakat untuk teratur, bersih dan nyaman! Lalu apa hubungannya dengan menyebarkan aib? menyebarkan aib hanya akan membuat keadaan mereka semakin tidak teratur, tidak nyaman dan saling membenci. 

Apalagi melaknat, hal tersebut  akan menumbukan benih kebencian mereka terhadap keteraturan, padahal yang salah bukan keteraturan, melainkan kita yang mengajarkan dengan cara melaknat mereka yang kurang teratur.

Lalu apa alasan kita mencari dan mengorek aib seseorang? Keluarga mereka, anak, istri dan orang tua! Kalau hal tersebut menimpa diri kita, bagaimana kita akan meresponnya. Apakah kita akan menerima dengan lapang dada? Tentu saja tidak! Perbuatan tersebut sangat dibenci dan dilarang. Juga akan membuat masalah semakin rumit.

Kita selayaknya intropeksi diri, melihat anak kita, istri kita, orang tua, adik, kakak dan keluarga lainnya. Apakah mereka sudah berlaku teratur? Bersih dan tentram! Jadi jangan sampai kita mencak-mencak memarahi dan melaknat orang lain, adik kita justru yang kotor tidak terurus, abang kita tokoh amoral dan asusila. Kan lucu!

Hal yang terpenting dari semua ini, hendaknya Islah itu dimulai dari diri kita, kemudian orang yang terdekat dari kita (istri, anak, ibu, ayah, abang, adik dan anggota keluarga lainnya). Lalu sedikit demi sedikit meluar ke tetangga, masyarakat dan terus keatas sedikit demi sedikit.

Islhah itu sebaiknya dilakukan dengan mendidik bukan dengan cara-cara negatif, karena sesuatu yang keras akan luluh dengan cara yang lemah lembut. Kalau dihantam dengan benda keras, benda tersebut akan patah.

Hindari melaknat, berkata kotor, mencari keburukan, menyebarkan kebencian dan mencaci-maki. Sebab hal yang baik itu tidak diajarkan dengan cara yang tidak baik. Tidak layak makanan yang bersih diletakkan diatas atau didekat kotoran.

* (')_._(') Percakapan satu Kawan dangan Kawan yang lainnya. Dan Guwek penontonnya.
* Kalimat Keteraturan bisa saja diganti dengan kalimat lain semacam keilmuan, kecerdasan, kemaksiatan, pakaian, akhlaq dan kalimat-kalimat lainnya menurut selera, asalkan cocok dan padan dengan tulisan.

Feb 19, 2014

Bijak Bermedia!

Google Image
Terlibat diskusi kecil dengan beberapa kawan kuliah, mengenai ihwal sosial media (baca. sosmed) terutama facebook. Kami berbagi cerita sejauh mana sudah katagori perubahan logika human touch terhadap dunia nyata. Nah, cerita kami juga mencoba membaca karakter-karakter manusia-manusia sosmed dalam meluapkan energi mereka termasuk di media koran, facebook, blog atau twitter sekalipun.

Beberapa pengguna fb memamfaatkan media ini untuk mencari pengaruh, promosi dan berjualan. Termasuk pengaruh sosial, politik dan ekonomi. Dalam katagori ini mereka betul-betul memamfaatkan media untuk kebutuhan dan fungsi media pada sebenarnya. Gaya ini mulai terkenal ketika Barack Hussein Obama memperkenalkan metode ini berhasil menarik simpati rakyat untuk memilihnya.

Dalam katagori lain dakwah juga menjadi pilihan. Beberapa diantara tokoh-tokoh religius menyampaikan kalam-kalam langit dengan memamfaatkan media. Cara ini juga menuai efek positif. Mengingat terbukanya ladang dakwah baru. Sehingga pelarian manusia kedunia sosmed juga dibarengi dengan terbukanya ustad-ustad yang mau berdakwah disana.

Provokasi politik bahkan revolusi sekalipun dalam dasawarwa sekarang bisa digerakkan oleh media. Arab Spring khususnya Revolusi Mesir bisa dipastikan sangat kental pengaruh facebook. Bahkan hatta diseluruh dunia pun dunia bisa membunuh dan menaikkan pamor rich human. Bahkan untuk mencaci pun bisa masuk katagori ini.
Menggunakan pengaruh media ini untuk mencari jati diri dan pelampiasan. Nah, ini katagori yang menarik ketika kami bahas. Sosmed memang tempat pelarian, berjualan dan membuka wawasan. Hanya saja kebanyakan dari kita bahkan tidak tau batasan-batasan untuk tidak men-generalisir semua hal untuk semerta-merta ditumpahkan.

Seorang murid saat ini sudah tau aktifitas apa saja yang dilakukan gurunya dirumah. Kemana saja gurunya pergi dengan cara melihat fb mereka.

Entah karena anak-anak sudah tidak tau berguru dimana atau memang mereka sudah kudu jauh melangkah! Mereka pun mencoba mencari jati diri didunia maya. Melihat, membaca dan memperhatikan aktifitas dunia ini kemudian menjadikannya sebagai patokan utama hidup mereka.

Nah, dua hari yang lalu saya berziarah kerumah guru kami. Beliau baru saja aktif di facebook. Ketika kami mengapresiasikan kalam-kalam mauidzah di status yang beliau tuliskan sehari dua kali. Terutama menyangkut nasehat kepada penuntut ilmu terkhususnya untuk murid yang talaqqi langsung.

“facebook dan media memiliki efek positif ketika kita gunakan untuk hal-hal yang baik, jika kita menyebarkan nasehat dan dibaca oleh banyak orang maka kita akan berpahala. Begiru juga sebaliknya.” Kata beliau.

Kita punya perihal berbeda dan kondisi yang tidak sama ketika sedang mempergunakan sosial media. Mungkin sedang marah, rapuh, senang atau susah. Nah, ketika hal-hal rentan seperti inilah yang kemudian terbitlah setatus meyayat hati.

Diakhir diskusi kami sepakat dengan satu kesimpulan, bahwa selayaknya kita mempergunakan sosmed dengan bijak dan bertanggung jawab. Bijak dalam menyampaikan dan bertanggung jawab terhadap apa yang disampaikan dunia akhirat. Semoga!

Feb 17, 2014

Tentang Cara Mereka Hidup!


Susan Boyle : Image by Google

Ada dua cerita menarik tentang hidup. Pertama seorang anak muda kelahiran 1990 bernama Sung-bong Choi asal Korea Selatan. Ia mulai terkenal sejak mengikuti Korean’s Got Talent 2011 dan berhasil mendapatkan juara dua. Sosok kedua Susan Magdalena Boyle pemenang Britain's Got Talent pada 2009

Berbeda dengan Sung-bong, Susan berhasil menyabet juara pertama dalam ajang talenta tersebut. Bisa dikatakan mereka adalah dua manusia yang berhasil muncul dalam program yang sama yaitu Got Talent, namun dinegara berbeda. Bong memiliki kisah tersendiri ketika mengikuti acara tersebut, ia bahkan merasa kalau ajang tersebut tidak berhak diikutinya.

Ketika juri (Song Yun-ah) menanyakan kenapa Bong tidak mengisi riwayat keluarga dalam blangko pendaftaran ia terdiam dan memberi jawaban yang mengejutkan bahwa ia dibuang oleh keluarganya ketika umurnya tiga tahun dan masuk panti asuhan. Tiga tahun setelahnya ia melarikan diri dan hidup dijalanan seorang diri. Mencari makan dengan jualan makanan dan minuman ringan.

Ia berjuang mati-matian dalam ganasnya kehidupan liar, terombang-ambing di jalanan, dunia obat geng dan obat-obatan. Dalam catatan hidup ia bahkan menyebutkan bahwa ia pernah disekap oleh preman jalanan. Hingga ditangkap oleh polisi dan dikembalikan ke sekolah.

Susan punya cerita yang lain, dengan sosok yang biasa saja, umur yang sudah melewati masa hura-hura ia berhasil memukau para juri hingga sampai ke tahap final dan menjadi fenomenal Britain Got Talent 2009.
 “I know what they were thinking, but why should it matter as long as I can sing? It's not a beauty contest.Susan Boyle, The Sunday Times

Sung-bong Choi Image by Google

Tulisan ini tidak bertujuan mempromosikan apapun atau siapapun. Namun hanya sebagai pengingat bahwa air akan menemukan muaranya sendiri ketika tiba masanya. Dua sosok diatas mewakili manusia-manusia yang tidak menyerah dan mencoba peruntungannya.

Dalam nuansa lain mereka manusia kekurangan namun tidak menyerah dengan ketidakmampuan mereka dalam beberapa hal kemudian melejitkan sudut talenta lain yang mereka punya.
*hanya pengingat diri dan kembali membiasakan untuk menulis.


Feb 9, 2014

Catatan Akhir Desember (2)

google image
Anak muda kedinginan, ada asap kecil keluar disela nafas. Seminggu yang lalu Kairo hampir dipastikan tergenang es batu, Provinsi dan wilayah yang terletak di dataran tinggi dipastikan bersalju. O…ooo… Dan kini kami anak muda sadar, bahwa musim salju bukanlah musim yang menyenangka untuk di impikan.

Guyuran hujan Rabu, Kamis, Jum’at Tgl. 13 minggu lalu memastikan pergantian musim. Jadi kota ini tidak jadi muntah salju, ada rasa syukur. Sakit sekali, sejak tubuh ini berlabuh, tahun inilah dinginnya menembus sembari menusuk sum-sum anak muda. Ija limboetmerek murah dipastikan kurang berfugsi, lalu toko Ammu Sya’ban saban hari dipenuhi pelanggan hingga malam hari.

Kabar terakhir, Palestina dan Suriah dipeuhi salju. Kali ini alam yang beringas, anak-anak dan manula mengeras, ada informasi israel membuka waduk dengan debit air full akibat hujan. Hingga meluluh lantakkan beberapa kampung terdekat.

Suriah dipenuhi foto es manusia, badai salju ditambah kekuragan stok selimut dan tenda dibawah standar musim dingin membuat pengungsi disana tak berdaya. Jika anak muda yang disini hanya merasakan dingin menembus tulang sulbi, maka seluruh tubuh mereka mati rasa, ini keadaan dunia Islam.

Dunia betul-betul disibukkan dengan masalah yang terus bersambung, kadang mana yang penting dan tidak bermamfaat sangat susah kita bedakan. Jika tidak jeli media bakalan menyeret mindset kita menuju mon tuha yang ujung-ujungnya kita menjadi tong sampah dalam istilah orang desa.

Re-memorize again!

Disini berita demo adalah makanan, saban hari manusia berdemo. Jika dulu di Tahrir Square, Rab’ah, Abbasiah, Ramsis dan di berbagai Provinsi. Kini mereka beralih berdemo di Universitas besar. Bisa jadi disinilah tempat yang paling aman untuk menyuarakan keadilan, kalau ditempat lain dipastikan mereka akan punah.

Di Turki mereka sudah sampai kepada tahap proyek pembebasan undang-undang dari aturan larangan praktek Islam dalam konstitusi, sekularisme dan liberalisasi disegalan lini dari dulu merantai mereka semenjak jatuhnya emperor terakhir Islam Turki Usmani.

Dulu, hampir saja putra mahkota memilih memerangi kembali kekalahan mereka, dengan panglima perang nan bersahaja yang siap jiwa raga untuk merebut kembali tahta kerajaan. Namun harapan mereka diredam oleh nasehat-nasehat ulama besar pada saat itu. Mereka mau mendengar, jika saja mereka berperang maka dipastikan bahwa mereka akan kehilangan sisa generasi Islam.

Karena dari sisa generasi tersebut diharapkan akan lahir generasi yang akan membangun Islam tanpa lagi kehilangan banyak nyawa zero hasil. Merekalah yang mendidik kepala-kepala yang sekarang berdiri didepan sisa bangsa Usmani tersebut.

Bukan sekali dua kali mereka mengalami kekalahan dan upaya pemberangusan. Berkali-kali mereka ditindas, dikudeta serta ditekan. Namun mereka terus berevolusi dengan penyesuaian disana-sini, sampai-sampai mengganti idealisme kendaraan liberal demi mengembalikan maruah Islam.

Di negeriku kaum-kaum terpecah belah, sebagian sedang bereuforia, bagian lainnya mengutuk bagian sebelumnya. Kaumku sedang membelah diri, membuat sekat-sekat kecil. Masing-masing tidak lagi saling melihat, menutup mata dan telinga.

Entahlah, seseorang nan jauh disana berseru “Sebaiknya kita sama-sama kembali ke pangkuan ulama, meminta cuil-cuil keikhlasan para pewaris nabi agar kita tidak lagi terpecah belah”.­­­­

Mari kita ikut bersuka ria saja, walaupun mungkin kita tak tersentuh. Anggap saja kita bagian dari euphoria tersebut sambil mempersiapkan generasi untuk menggantikan posisi mereka kelak. Mungkin sepuluh atau 20 tahun, muka-muka akan berganti. Itulah seharusnya yang harus kita persiapkan.

Ganti mereka dengan generasi ber-otak dunia dengan hati ber-akhirat. Manusia yang akan memberi makan para yatim dan janda-janda, membangun jalan-menuju pelosok desa. Mereka yang suka menghidupkan Dayah dan Mesjid, membumikan tarbiyah non-golongan dengan pemahaman Islam yang rahmatan lil a’lamin.

* Anggap saja ini sebagai catatan isengan anak qanun:D

Dec 4, 2013

Catatan Desember (1)

Google Doc.

Kawan, ketika kita melihat berbagai hal yang tidak kita ketahui, tidak kita pahami keadaanya dan jauh dari ilmu yang kita punya atau sesuatu yang kita tidak punya kapasitas untuk menjawab dan menanggapinya maka janganlah terburu-buru.

Berilah orang-orang yang paham hak mereka, untuk menjawab dan memberi jawaban terhadap masalah tersebut. Biarlah kita berdiri disuatu sudut mendengar, menyimak dengan baik apa yang mereka ketahui, jika sesuai maka begitulah jawabannya, jika tidak sesuai seperti keinginan kita maka tunggulah hingga masalah tersebut dijawab oleh orang lain yang juga punya kapasitas.

Namun ketika para ahlinya sudah memberikan semua pendapatnya dan tidak ada satupun yang tidak sesuai seperti yang kita harapkan, segeralah menjauh dari persoalan tersebut. Bisa jadi kita memang tidak layak berurusan dengan hal tersebut.

Lihatlah laron (red. anai-anai), mereka muncul dimusim hujan. Makhluk ini memiliki semangat yang sangat menggebu-gebu mencari cahaya demi menghangatkan tubuhnya. Berbondong-bondong memadati lampu mengepakkan sayap indah hingga tanpa sadar satu persatu sayapnya rontok. Lalu berjatuhan, bahkan banyak yang mati setelah mendapatkan cahaya yang diimpikannya.

Disudut lain sekelompok yang lain sedang berputar-putar berusaha menggapai cahaya lilin, setelah dekat dan menggapainya mulailah cahaya tersebut membakar tubuhnya menjadi hangus.

Kita manusia juga punya kecenderungan seperti itu, ketika “sebuah hal baru” terjadi maka beramai-ramai mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengomentari, menganalisa dan berkomentar baik atau jelek terhadap hal tersebut. Padahal disitu bukanlah kelahlian kita. Bahkan sebagian memang tidak sedikitpun tau tentang dunia yang mereka hitamkan. Lalu dengan meraung-raung memberikan komentar busuk.

Syaikh Ali Jum’ah dalam sebuah kesempatan menjelaskan bahwa sifat seperti ini juga ada pada lalat. Jika lebih jauh kita perhatikan, lalat sangat menyukai kotoran, sesuatu yang bau menyengat baik tempat kotor maupun makanan bahkan dimana saja ia akan hinggap, tidak peduli sedang dimana dan apa yang dikonsumsi dan dilakukannya.

Lalat-lalat tersebut mengerumuni sesuatu yang baik dan juga sesuatu yang buruk, sehingga ketika mereka sedang berkerumun, kita tidak tahu apakah yang dikerumuni itu sesuatu yang baik atau buruk dan bahkan sesuatu yang baik jika dikerumini akan lalat menjadi buruk?

Hal ini juga berlaku untuk manusia, ketika mereka berkerumun, belum tentu yang mereka kerumuni adalah sesuatu yang benar. Betapa banyak kita melihat manusia berkerumun untuk hal buruk, sebagaimana lalat mengerumuni kotoran. Dan betapa banyak pula kita melihat kebenaran sepi dari kerumunan orang.

Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu…” (Q.S. al-Maidah: 100).

Bijaklah kita ketika mengerumuni sesuatu, jauhilah sifar hasad dengki supaya Allah Swt. menampakkan wujud sebenarnya dari permasalahan tersebut. Apakah layak untuk kita dekati atau cukup kita serahkan saja kepada ahlinya untuk diselesaikan sembari berdoa kepada Allah agar mereka dimudahkan dalam menyelesaikanyya. Jika memang kita ingi berkomentar nampakkallah sikap yang mendidik.

Sikapi dengan baik, jika membela berikallah uraian-uraian penjelasan, kalaupun menolak hendaklahnya dengan cara yang   menunjukkan bahwa kita merupakan orang yang betul-betul punya itikad baik terhadap hal tersebut. Jauhilah hinaan, hujatan, kata-kata kotor dan bahkan pengkafiran terhadap hal yan belum kita tau pangkal ujungnya.

Jika memang tidak mampu, maka saran yang pertama dan terakhir agar “hendaknya hal tersebut dijauhi saja”. Cukup lihat dari jauh dan berkomentar dalam hati.

Oct 7, 2013

Bek Ta Rudah u Langet!

Google Image
Ketika kita mau berpikir maka banyak hal yang telah kita lakukan dimasa lalu tidak seharusnya kita lakukan. Hari sudah berlalu detik-detik keapaan tersebut sedikit demi sedikit membayangi, terkadang timbul penyesalan-penyelasan didalam lubuk hati sebagai bentuk rasa bersalah terhadap hal tersebut.

Mungkin  kita telalu tergesa-gesa ta'assub (rasa cinta) berlebihan terhadap kelompok atau kepentingan pribadi sehingga  tertutupnya mata hati. Atau justru karena hasil provokasi sebagian pihak atau media yang sangat susah untuk kita pilah. Semua alasan bisa jadi pemicu terhadap noda masa lalu atau bahkan sampao sekarang masih rajin kita lalukan!

Dalam dimensi berbeda dan konteks yang tidak sepenuhnya kita pahami ditambah dengan keterbatasan informasi,  pemaksaan komentar bernada hujat tidak henti-hentinya kita paksa untuk keluar dengan dalih membela kebenaran. Jika memang itu al-haqq, apakah kebenaran harus disampaikan dengan cara yang buruk? 

Masa lalu adalah keniscayaan, kita tidak bisa kembali dan menghapus deretan-deretan kekhilafan yang sudah menjelma. Tapi bukan tidak mungkin hal tersebut akan kita ulangi dimasa depan, bahkan terus dan terus berkali-kali tanpa sedikitpun menjadi pelajaran bagi kita. Bukankan pengalaman adalah guru yang paling berharga?
Sebutlah Komar (fiksi) dulu dia sangat mengagumi mantan Presiden Iran Ahmadinejad. Dia bahkan berani mengatakan bahwa beliaulah satu-satunya presiden di dunia yang bisa kita banggakan. Berhasil melawan hegemoni Amerika dan tegas terhadap kepntingan Islam. Pokoknya Iran the best powerful dan kiblat bagi Komar dalam segala hal. Dalam hiwar apapun vocab Iran selalu terselip. Namun ini cerita lima tahun yang lalu. Kini ia berubah menjadi manusia paling cerdas ketika berbicara mengenai kebobrokan negara Syiah tersebut.

Kemudian Jono (masih fiksi) yang mengklaim dengan sumpah pocong bahwa dia sangat membenci orang daerah tertentu. Hingga suatu saat ia bahwa dari pada menikah dengan wanita dari daerah tersebut. Lebih baik ia melajang seumur hidup. Ini juga cerita lima tahun yang lalu, sekarang jono sudah menikah dengan perempuan dari daerah yang dibecinya dan dikaruniai tiga anak, dua putra dan satunya lagi putri.

Rasa berlebihan tidak hanya berlaku untuk rasa cinta, tapi juga kebencian. Dalam banyak hal kita melihat orang-orang menghina kelompok lain dengan membabi buta. Tanpa menyadari bahwa cara kita mengeluarkanya sungguh sangat menyakiti. Kita punya cukup alasan untuk membenci dan mencintai dengan sesuatu, sehingga dengan mudah kita menghujat atau ta'assub buta. "Sesungguhnya yang mengejek lebih buruk dari yang mereka ejek" entah kaedah ini berlaku bagi kita.

Ada baiknya kita tidak menghukum sesuatu yang tidak kita pahami hakikatnya. Sesuatu yang tidak kita ketahui hakikat bisa jadi ketika ia dinampakkan oleh Allah kenyataannya berbalik dengan apa yang kita yakini. 

Rasa cinta yang berlebihan membuat mata hati tertutup dan hal ini berlaku pada kondisi sebaliknya. Adakalanya benci dan cintailah sesuatu sekedarnya saja. Karena bisa jadi suatu saat rasa tersebut akan berbalik, cinta menjadi benci dan benci menjadi cinta. 

Semoga tokoh Jono dan Komar menjadi ibrah bagi kita. Apalagi yang kita hina adalah ulama dan orang yang dekat dengan Allah Swt. Apa yang akan kita lakukan jika hijab dinampakkan oleh yang maha kuasa. 

Sep 29, 2013

Berubah Adalah Bernilai dan Berguna

Google Image
"Jika kita mati dunia dan seisinya dengan mudahnya melupakan kita. Jika kita hidup, dunia dan penghuninya akan melihat kita dengan dua macam cara. Pertama sebagai manusia yang akan menghancurkan dan kedua sebagai manusia yang akan bermanfaat bagi mereka" .

Perspektif manusia dan seluruh penghuni bumi tetap sama, sampai kapanpun tetap hanya terlihat satu wajah. Beberapa diantara kita mencoba bermain wayang dengan tubuh sebagai media utama. Sebagian yang lain akan bertopeng, mencoba sifat dan tingkah baru yang berbeda dengan tingkah yang mereka punya.

Iming dan berharap akan ada perubahan dengan cara pandang orang-orang terhadap kita, tapi justru proses yang kita usaha mati-matian tersebut hanya terus menambah rasa was-was mereka terhadap kita.

Jika saya jadi kita, maka solusi cerdasnya adalah kembali melihat lagi proses awal. Bisa jadi niat pertama kita untuk memperbaiki diri tersebut tidak dilandasi dengan tujuan yang baik, atau kita tidak paham dengan konsep dasar penilaan naturalnya manusia terhadap sesamanya, bahkan makhluk hidup lain sekalipun (baca : hewan dan tumbuhan serta jin).

Nilai manusia bagi manusia adalah berguna bagi mereka sedikit atau banyak. Dan sebaliknya ketidakbernilainya kita dimata mereka adalah minus manfaat terhadap kemaslahatan dalam berindividu, bermasyarakat dan beragama. 

Bagi sebagian yang lain bernilai cukup dengan slogan "jika tidak bisa membantu makan janganlah merusak". Dan ini rasanya cukup mewakili perasaan seluruh makhluk hidup, baik hewan dan tanaman bahkan alam ghaib sekalipun.

Dalam pemahaman dunia baru (moderen) dunia hanya terbagi dua yaitu dijajah atau terjajah, walaupun masih ada sedikit ruang bagi mereka yang hidup dengan filosofi lama.

Susah melacak bagaimana filosofi ini bisa mengisi ruang hati manusia. Apalagi setiap manusia memiliki strata hidup berbeda, dan kita tau setiap manusia mewarisi sifat ingin kaya, bersahaja serta berlimpah dengan kesenangan. (sajak malam)

Aug 26, 2013

Tabayun, Oh Tabayun


Penyakit pertama yang akan saya alami ketika membuka facebook adalah merasa marah dendam dan agak meuapam. Kedua akan ada beberapa hal yang harus saya lakukan untuk menghilangkan rasa tersebut, diantaranya dengan beristhigfar atau mengambil wudhu atau menuntup kembali akun fb saya.

Bagaimana tidak, saya mulai terasingkan dengan berita-berita yang amat membahayakan pembaca yang jauh dari pengetahuan terhadap informasi yang dikonsumsinya. Saya pun merasa jika saya bukan ditanah ini, mungkin saya akan mengutuk dan mendoakan tokoh-tokoh yang digambarkan mereka dengan wajah yang buruk sekali.

Belakangan saya menghilangkan list sebagai bacaan beberapa website mutasyaddidin. Saya berhasil meninggalkan beberapanya lagi dengan dalih sebagai media dakwah yang baik dan mencerahkan. Paling tidak informasi yang mereka berikan lebih baik dan terpencaya dibandingkan media yang telah masuk blacklist. 

Dan hari ini sepertinya daftar hitam tersebut akan bertambah seiring perkembngan informasi yang mereka sajikan. Jika seandainya media sekuler berbicara, yang terambar adalah hanya kebohongan yang mereka sampaikan, atau bisa jadi sampah yang didaur untuk menjadi uang. Nah, kalau yang melakukannya adalah media Islam, alias media yang mengagungkan dan membawa nilai Islam, kira-kira bagaimana respon kita.

 Sir, kita juga media. Artinya kita bisa saja menyampaikan berita fitnah yang akan membuat luka, bernanah, bau dan berulat. Ketika kita membaca berita media yang kita klaim sebagai media fitnah dengan bertabayyun, maka selayaknya kita menetapkan standar yang sama terhadap media yang kita klaim media dakwah. Karena sebagai media, ruang fitnah berlaku pada semua media. Bagitu pandangan naif saya.

Akibat dari inbok beberapa rekan yang meminta konfirmasi terhadap berita nyut-nyut tersebut. Saya memberanikan diri mengecek dan mencari apa sebenarnya kejadian di dunia media Islam. Dan faktanya adalah sangat-sangat menegangkan. Beberapa hari tidak membaca berita, serasa saya sudah ditinggalkan bertahun oleh media tersebut (tanda kutip).

Bukan hanya satu berita yang menurut saya mengerikan, tapi banyak sekali yang semakin dibaca semakin membawa saya kepada emosi yang meluap-luap. Jika saya esmosi karena ketidakselarasan berita tersebut. Saya membayangkan esmosi si pembaca terhadap isi berita tersebut (baca ; termakan). Maka akan lahir doa-doa pengkafiran dan peliberalan serta pengutukan yang membabi buta.

Bagi saya, ada beberapa generalisasi yang saya takutkan ketika lebih jauh menatap beberapa laman website tersebut. Adanya kemungkinan penggiringan opini publik menuju pemburukan karakter terhadap golongan tertentu dengan membunuh karakter tokoh, sehingga lambat laun masyarakat akan mengklaim bahwa tokoh tersebut tidak bisa dipercaya.

Jikapun nanti tokoh ataupun golongan tersebut dibantai maka hal tersebut akan dianggap sah oleh khalayak. Dan kita persis melihat kejadian ini di Suriah, ketika Almarhum Syeh Buthi Syahid. Dengan sajian fitnah yang membabi buta. Dan faktanya adalah pembantaian masyarakat sipil oleh pemerintah Syiah. Dan siapa kira-kira yang akan menyelesaikan konflik disana? Oke, kita tidak membicarakan masa lalu, dan tidak melanjutkan klaim aneh.

Kemungkinan yang lain adalah adanya upaya pelepasan label azhar dari ahlussunnah yang menerima mazhab mu’tabar, menuju tidak bermazhab. Dan upaya ini telah dirancang berpuluh-puluh tahun yang lalu sehingga tidak  tertutup kemungkinan sekarang adalah waktu yang tepat untuk merealisasikannya. (Dan semoga keduanya tidak benar, artinya hana berada didalam pikiran saja).


(*Tulisan ini ditulis dengan rasa keanehan tersendiri, ketakutan akan fitnah dan ketakutan akan memfitnah.

Aku dan Duktur Abdurrahman (1)

Foto Ketika Menghadiri Acara Walimah Putra Duktur Abdurrahman

\“Jenazah gopnyan jino ka trok u rumoh…darah mantong meu jein-jein bak rinyeun”. (Fb : IjubKhan Tripa)

Menit pertama setelah diberitahukan bahwa duktur (panggilan kami terhadap ayahanda Dr. Abdurrahman Uwais) telah berpulang ke rahmatullah, yang kurasakan adalah laju bumi ini sedikit melambat. Dan rongga dada seperti disesaki raungan dan auman kesedihan.

Bola mata seperti akan basah, namun tetap harus kutahan. Teman-teman disampingku tau kalau berita ini sangat membuatku terpukul. Mereka tidak banyak bertanya, hanya mendengarkan kalimat perkalimat saja. Setelah itu kami kembali terdiam.

Sesaat aku tersenyum, beristhigfar dalam hati ,mencoba agar rasa sesak sedikit demi sedikit hilang. “beliau pantas mendapatkannya, beliau pantas mendapat pahala syahid, menuju pangkuan ilahi rabbi”.

Ayah rohani
Beliau itu, ayah rohani kami. Ayah yang selalu mengisi hati dengan mutiara suci, mengasah lidah kami dengan zikir dan menutup mulut kami dikala dunia dan seisinya saling menghujat serta mengkafirkan. Jikalau ada yang bertanya kepadaku kenapa penghuni rumah kami sangat berhati-hati menulis tetang konflik mesir, sepi hujatan-hujatan keji dan pengkafiran adalah karena beliau selalu menasehati kami untuk menjaga lidah dari keburukan dunia akhirat.

Beliau itu ahli ibadah, hafiz dan alhi tafsir. Bacaan disetiap shalat fardhu satu rubu dan setiap tarawih atau witir satu juz dengan bacaan beliau pun sangat lambat demi menjaga tajwid dan harakah agar tidak salah. Sangat sedikit jamaah di mesjid kami, hanya beberapa orang saja yang menjadi jamaah wajib.

Almarhum sangat zuhud, sederhana dan bersahaja. Aku tidak pernah meilihat beliau berpergian dengan mobil pribadi. Sepertinya beliau tidak punya mobil. Yang terparkir didepan rumah hanya mobil tetangga yang menyewa flat beliau. Berpergian untuk mengajar di Universitas Al-Azhar saja beliau tempuh dengan Metro (kereta api listrik). Tidak ada bedanya dengan kami yang mahasiswa.

Aku hidup bersamanya dalam tiga huru-hara, mulai dari masa Mubarak, Dr. Mursi dan As-Sisi. Namun yang kurasa adalah sikap dan kepribadian “mengajak kepada kebaikan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” beliau tetap tidak selangkahpun goyah. Beliau itu sudah berkali-kali keluar masuk penjara, namun Allah Swt. Selalu menyelamatkannya hingga ajal menjemput menemui rabb-Nya kemarin di medan rab’ah.

Beliau tidak pernah memberiku izin untuk mencium tangannya ketika kami bersalaman disetiap selesai shalat lima waktu, hingga subuh kedua hari raya kemarin, Ia memberikanku hadiah spesial yaitu mencium tangannya sambil dengan wajah tersenyum melihatku. Sebelumnya subuh 29 Ramadhan beliau mengajak kami (via kawan) untuk Shalat Ied di Medan Rab’ah. Namun kawan kami (fitra) menolaknya dengan halus karena kondisi memang betul-betul tidak memungkinkan.

Terus membekas
Duktur, kenangan ini tidak bisa kuhapus, air mata tidak bisa kubendung. Sungguh aku juga tidak bisa menjadi pribadi sepertimu. Namun aku akan terus menjaga pesan, kesan dan pelajaran berhargamu sebagai bekalan kehidupan dunia dan akhirat. Aku bukan seorang hafiz sepertinmu, penyabar yang ketika ditangkap dan diborgol hanya tersenyum manis sambil mengucabkan ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’. Tapi diketika berkhutbah suaramu membesar meneriaki kezaliman, layaknya singa yang siap menerkam mangsanya.

Sungguh air mataku berderai ketika membaca komentar “Jenazah gopnyan jino ka trok u rumoh…darah mantong meu jein-jein bak rinyeun”. Tak kuasa aku menahan tangis. Aku yakin, Allah melahirkan Abdurrahman-abdurrahman yang lain untuk menyambung risalahmu.

Aku tidak bersedih atas kepulanganmu kehadhirat ilahi rabbi karena itu janji-Nya, namun akan sangat menyakitkan bagiku jika tidak bisa mencium keningmu untuk terakhir kali.

**Hanya kepada Allah saja harapan ini kusandarkan.

  • Qatamea, 15 Agustus 2013.

Jul 9, 2013

Risalah Bendera



Sejauh ini simbol menjadi hal sakral yang kadangkala membuat judgment pada seseorang. Umumnya simbol lebih pada sesuatu yang tertulis atau digambar. Perbedaan antara satu negara dengan negara lain pada simbol benderanya disamping pada hal lain.

Dunia mengenal simbol palu dengan sabit sebagai lambang komunis, lebih menarik lagi  yahudi dengan simbol-simbol aneh, sehingga oleh sebagian manusia dicap sebagai lambang setan. Sebutlah bintang david, mata satu, menorah, segitiga dengan mata diatas dan banyak lagi.

Dalam misi penjajahan ekonomi dunia, yahudi membawa simbol Unilever sebagai bentuk ikatan kekuatan produk. Maka jangan heran bila sebuah barang yang dilabeli dengan simbol Unilever sangat digemari oleh pelaku konsumsi. Dalihnya karena barang tersebut dianggap berkualitas baik dan teruji.

Tentu saja pemakai barang bermerek  ini juga merasa, mereka seperti bagian dari manusia kalangan atas dikarenakan barang yang mereka gunakan memiliki merek terkenal, ada dalam iklan di TV dan harga yang lumayan menggerogoti.

Agama pun tidak luput dari simbol, Islam yang lebih dikenal lambang bulan dengan bintang diatas tempat ibadah. Nasrani atau kristen dengan salib yang dikenakan di tempat-tempat ibadah, dirumah-rumah, digambar di badan atau sebagai hiasan yang digantung pada kalung leher. Hindu dengan patung dewa-dewa, Budha dengan patung budha. Hampir dalam berbagai hal kita sudah diikat oleh simbol-simbol.

Dalam banyak kasus simbol merupakan harga mati untuk diperjuangkan. Di Mesir Ikwanul Muslimin menjadi simbol yang menakutakan bagi Israel, Amerika, sebagian negara teluk, beberapa kelompok Kristen dan kalangan liberal sekuler. Sehingga sampai hari ini kita Mesir, Ikwanul Muslimin dan Mursi sang presiden terus digoyang dengan berbagai cara oleh mereka.

Drama demi drama berlangsung face to face. Propaganda licik pun tak segan diterapkan dengan tujuan pihak Ikwan, salafi dan pemerintah membalas mereka dengan kekerasan sehingga jalan menuju kudeta bisa lenggang dilakukan dan diaminkan dunia intenasional.

Dibelahan dunia Asia tepatnya Indonesia juga tak kalah saing, simbol ataupun label tak sekadar dianggap lambang saja, faktanya antara satu pihak dengan lainnya saling melempar simbol untuk menyikut dan memukul balik simbol kawan atau lawan politik. Label koruptor silih berganti dilempar sebagai pengalih isu satu sama lain.

Di Mesir Ikwan dan Salafi sebagai simbol Islam mati-matian mempertahankan Mursi sang presiden dari serangan pihak Syafik dan Amru Musa yang mengusung simbol liberal. Konon katanya sang liberal di back up Israel, Amerika dan sebagian negara teluk yang takut kepentingannya terganggu. Dan tentu saja ditambah ketakutan mereka akan diterapkannya syariat Islam. Dalih kegagalan Mursi dalam dalam mewujudkan janji-janji politik, dangkalnya pengusutan pembunuhan-pembunuhan masyarakat serta jatuhnya nilai mata uang mereka.

Di Indonesia rakyat sudah sangat lelah dengan simbol-simbol, bagi mereka simbol itu hanya sebuah Krong Pade (lumbung padi) yang didalamnya bersembunyi Tikoeh Teng (sejenis tikus dengan muka panjang kedepan) menghabiskan isi lumbung dengan dalih-dalih palsu. Kalaupun rakyat punya kucing (baca : KPK, Polisi) tetap saja tikoeh teng tersebut enggan dilirik apalagi dimakan kucing. Konon Tikoh Teng adalah jenis tikus yang tidak mau disentuh oleh kucing.

Hari ini Aceh gegap gempita, berbondong-bondong masyarakat menaikkan bendera yang merupakan bendera Aceh dengan lambangbintang buleun (bintang bulan). Ramai-ramai sahut menyahut kata-kata “merdeka”, “sibak rukok teuk” silih berganti diucapkan.

Jauh diujung nusa tenggara sana negara Timur Leste merdeka dari Indonesia. Tapi rakyatnya tidak jauh beda dengan situasi dulu ketika dalam genggaman NKRI. Yang lebih menyedihkan stabilitas kehidupan masyarakat masih terkatung-katung tanpa masa depan yang jelas.

Tentu ini tidak bisa kita samakan dengan Aceh, kita punya sumber daya alam yang banyak. Baik sektor migas, pariwisata, laut dan lain sebagainya. Jauh dari lubuk hati, kita berharap Aceh Merdeka. Namun tanpa menutup mata, seberapa baik Sumber Daya Manusia (SDM) yang kita punya, tentu akan menentukan sebanyak apa Sumber Daya Alam (SDA) yang bisa dinikmati rakyat kita. Untuk apa merdeka jika semua hasil sumber daya alam keluar menuju negara lain, sebulan setelahnya masuk lagi dengan harga meroket ke bulan.

Entahlah, di belahan Aceh autopsi simbol paling susah dan sakral. Salah korek lukanya bisa berdarah dan bernanah-nanah. Namun tetap saja kita harus berharap semoga di aceh simbol bukanlah kamuflase seperti label partai-partai di ibu kota. Yang memakai label sebagai tangga jabatan, memukul lawan dan mengeruk hasi keringat rakyat.

Juga bukan tidak seperti di Mesir, dengan cara-cara yang licik dan menyedihkan mereka berkerjasama dengan musuh gara-gara takut kehilangan pengaruh dan kepentingan. Juga Timor Leste, yang punya simbol namun tak rakyat mati sambil menatap simbol. Wallahu A’lam.
*Mh

Popular Posts

bilhalib.blogspot.com. Powered by Blogger.