Catatan Betmen

May 14, 2013

Who Is The Next Legends?


Google Image


Kepengurusan organisasi Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) periode 2011-2012 menghitung hari. Pengurus masa amal 2011-2012 bersiap melaporkan seluruh hasil kegiatan yang telah terprogramkan, baik yang terlaksana atau tidak. Pengurus harian (BPH) dan seluruh koordinator bidang sibuk mempersiapkan laporan tertulis, untuk dibukukan dan menjadi pertinggal kepengurusan periode selanjutnya.

Organisasi kita KMA sebagai induk organisasi masyarakat Aceh khususnya mahasiswa di Kairo, merupakan satuan perkumpulan yang sudah lama, jauh sebelum PPMI lahir kita sudah terbentuk. Menjaga, menaungi, berkumpul dalam kebersamaan dan kekompakan, demi mewujudkan KMA yang berdikari, berilmu dan beramal.

Mewujudkan KMA sebagai qudwah dan wadah aktualisasi diri  yang profesional untuk meraih multi berprestasi adalah merupakan visi jelas untuk keberlangsungan detak jantung KMA. Dengan kebersamaan yang kuat, walaupun tujuan ini besar, namun bisa sama-sama kita pikul membawa ke jalan yang lurus.

Keseharian pengurus tidak jauh beda dengan warga, mereka juga punya aktifitas manusiawi. Kuliyah, belajar dan juga aktifitas normal berlaku bagi mereka. Maka wajar ketika ada warna kusam disana sini. Mereka bukan kesempurnaan, akan tetapi manusia yang belajar sedikit demi sedikit agar lebih bermakna. Semoga dengan KMA kita bisa beramal juga berprestasi.

Kemana Sudah KMA?

Jauh sudah kita berjalan, memikul, memapah organisasi ini. Dengan segala keterbatasan kami sebagai insan tentu tidak luput dari berbagai kekurangan. Sejauh ini, kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk terus berada dalam jalur. Hingga hari ini, garis ini kami menemukan batas kami terhadap tanggung jawab sebagai pengurus.

Tetu saja hari esok masih ada, masih banyak hari-hari lain yang bisa kami berikan untuk KMA. Mungkin dalam episode lain, seperti ide, dorongan moril dan dukungan demi kokohnya KMA di masa depan.

Pengurus ibarat tim lari estafet, kita tidak bisa berlari sendirian. There is no one men show. Kita butuh kebersamaan, kawan-kawan yang selalu mendukung, yang mau memberikan sedikit pikiran dan meluangkan sedikit waktu. Akan ada batas bagi seseorang untuk berlari. Setiap dari kita punya sekali putaran, tidak lebih. Selanjutnya tongkat itu harus kita serahkan kepada pelari selanjutnya. Dan sekarang kami berada di batas garis itu.

Estafet menuju batas, harus ada pelari selanjutnya yang melanjutkan perjuangan ini. We need more legends, to keep our nature. And where is the legends? Who are they? Mereka adalah kita, kalian dan semua warga KMA. Mereka yang telah kita bina, kita jaga, kita didik, kita bimbing untuk menjadi bisa menjadi kudwah dan uswatun hasanah yang ideal untuk masyarakat KMA.

Muhibussabri Hamid*
Sekretaris II KMA Masa Amal 2011-2012

Mar 24, 2013

Mursi dan Ongkos Angkot!

Lee keedah, ana adfak kullu youm bigineh wa nush (kenapa seperti itu, saya setiap hari bayar 1,5 pound mesir). Begitu perdebatan harga ongkos tramko (red. angkot) dari jalan Mauaf Zahra menuju Mauaf El-Marg Gadidah. Berlarut-larut berputar kesana kemari mulai dari kesalahan pengemudi sampai masalah politik Mesir sahut menyahut. Menariknya penumpang lainpun pada ikut terbawa ketika Pak Tua tersebut membawa masalah politik dalam debat biaya tumpangan mobil antar jemput.

Why we always depend you Gaza!

Kenapa kita harus mendukung Palestina, bukankah disana 50% didominasi yahudi, sedang muslim dan kristen setengah sisanya.
Ya, benar sekali setengah dari perseratus warga Palestina adalah kaum yahudi. Sedangkan muslim setengah sisanya itupun harus dibagi dengan kristen yang berdomisili disaana. Penting juga kita melihat kenapa kita hanya melihat setengah sisa tersebut. Dan jika dalam beberapa tahun kita tidak memperhatikan muslim disana, mungkin mereka tersisa hanya sekitar 30 % saja.
Kita kembali ke belakang sebelum wilayah Palestina dikuasai Inggris, kemudian dihibahkan untuk yahudi, dengan batas, perjanjian dan aturan dengan kaum muslimin. Saat itu yahudi di sana minoritas sekali dan mereka hanya diberi beberapa wilayah untuk ditempati. Bertahun-tahun setelahnya mereka terus memasok yahudi dari negara lain untuk di tempatkan di Palestina.
Lalu setelah mereka merasa kuat, mereka mulai melanggar batas perjanjian. Mengusir muslimin dari rumahnya kemudian mengambil tanah mereka. Kemudian hal tersebut terus mereka lakukan hinggan bertahun-tahun lamanya sampai mereka mendeklarasikan negara israel. PBB mengakui bahwa yahudi tidak memiliki hak untuk mengusir dan membunuh kaum muslimin Palestina. Perlakuan mereka terhadap muslim tidak bisa ditoleransi. Namun pernyataan dan kecaman dengan santai dikebiri israel.

Catatan Syaikh Ramadhan Buthi

Fitnah demi fitnah
Diantara fitnah keji untuk Syeh Buthi, ketika ayah Asad meninggal terlihat Syeh Buthi bersedih dan mengeluarkan air mata. Sehingga kebencian orang bersebrangan dengan sunni dilampiaskan kepada beliau. Dengan mengatakan bahwa ia adalah penjilat pemerintahan syiah. Dalam kitabnya syeh buthi menjawab (termasuk dalam kitab Al-Jihad) kesedihan beliau bukan karena ia mencintai ayah Asad, namun karena ia melihat seorang pemimpin yang besar mati dan dihadiri oleh rakyatnya yang banyak ,mengantarnya ke kuburan tempat peristirahatan. Seorang pemimpin yang menganggap dirinya kuat, gagah perkasa akhirnya takluk dihadapan maut.

Kemudian  sebagian yang lain mengatakan Dr. Buthi adalah ulama yang dhalim mendukung kemungkaran yang dilakukan oleh Asad, dengan fatwa yang keluarkan menunjukkan bahwa beliau juga tidak mencegah kemungkaran tersebut . Dengan lantang Syeh Buthi menjawab bahwa "saya menanyakan kemana mereka yang mengatakan saya mendukung kemungkaran Asad, ketika Suria dalam bayang-bayang fitnah acara TV, sayalah satu-satunya yang mengharamkan dengan dalil-dalil syar'i sementara yang lain hanya terdiam membisu".

Selanjutnya fitnah yang mengatakan beliau tidak mendukung pembebasan negara muslim yan terjajah ditangan syiah keji, berarti beliau mendukung kekejian yang dilakukan syiah tersebut. Beliau balik bertanya "Kenapa mereka hanya mempertanyakan hal ini di Suria, namun ketika warga Palestina dibantai dan dari dulu sampai sekarang, tidak seorangpun dari mereka yang punya fatwa untuk berjihad membela al-Quds. Mereka cukup melihat kematian orang gaza, penguasaan jenin oleh yahudi dan mereka hanya mendengarkan apa yang diperintahkan pemimpin mereka, sekarang siapa yang penjilat?

Nov 12, 2012

Bad Ending Qanun Wali Nanggroe

Demo Suku Gayo (Google)


Written By : Muhibussabri Hamid
Pengesahan Qanun Wali Nanggroe (QWN) telah diumumkan. Berbagai tanggapan terhadap qanun mulai semarak terdengar, sedikit demi sedikit meluas dan berkembang menjadi isu hangat.
Sebagian merespon dengan Qanun WN tersebut dengan ancaman Gayo Merdeka, Gayo Merdeka Demo DPRASerambi 3/11/2012.Dalam aksi kemarin disuarakan keinginan agar sistem pemerintahan Adat Gayo diperkuat dan pemerintah pusat didesak untuk mempercepat pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA), Serambi, Massa Tolak Qanun WN9/11/12.
Carut-marut ketidakpastian sistem, lembaga dan mengancam keberagaman disebutkan dalam tulisan opini Muchlis Gayo, Potensi Disintegrasi di Aceh, Serambi Indonesia 8/11/2012. Alih-alih membuat rakyat Aceh bersatu, malah kini membuat pematik dan ditakutkan menjadi  bara api yang sangat mengancam persatuan serta kesatuan Povinsi Aceh.
Muchlis juga menyebutkan perlunya penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai kriteria wali tersebut. Tentu saja termasuk proses pemilihan wali, apakah dipilih berdasarkan keturunan, penunjukan atau pemilihan secara demokrasi?
Sementara penggiat penerapan syariat menganggap  QWN patut direspon dengan sedih, pilu dan malu dikarenakan tidak dicantumkannya kriteria atau poin syarat mampu baca Alquran dalam Qanun Wali Nanggroe yang telah disahkan tidak dicantumkan secara eksplisit syarat tersebut, Al-Quran dan wibawa wali nanggroe Oleh Teuku Zulkhairi 6/11/12.

Risalah Perjuangan Kepada Para Pendekar Al-Azhar

Pembekalan Wisuda Graduated (pmram.org)
Written By Muhibussabri Hamid
Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri menghadiri acara PMRAM. Acara Majlis Apresiasi Kecemerlangan atau wisuda. O… ya, PMRAM sendiri merupakan singkatan dari Persekutuan Melayu Republik Arab Mesir. Seperti persatuan pelajar untuk mahasiswa Malaysia di Mesir. Sedangkan Indonesia diwakili PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia).
Alasan sebenarnya mengikuti acara ini untuk menemani seorang sahabat karib yang mengikuti wisuda dengan PMRAM. Berhubung acara ini boleh diikuti oleh siapa saja warga Asia, baik Singapura, Thailand ataupun Indonesia.
Acara berlangsung tertib dan teratur sekali, mulai dari panitia hingga peserta mengikuti semua arahan dengan baik, tanpa banyak membuat kekacauan dan keributan. Hinga acara selesai, semua terlihat bahagia dan puas dengan acara ini, baik itu cover face maupun all guide comitte.
Mereka mengundang fadhilah Syeikh Dr. Saad Jarwish Al-Husaini, Dr. Ibrahim Hud Hud yang merupakan Dekan Kuliah Bahasa Arab Al-Azhar dan Drh. Mohjah Ghalib Dekan Kuliah Banat Universitas Al-Azhar.
Memakai gedung ACC (Azhar Conference Center) ruangan Andalus yang merupakan ruangan dengan kapasitas besar.  Peserta berjumlah sekitar 66 dari laki-laki dan 67 dari perempuan, 18 mahasiswa berprestasi dan 39 dari pihak mahasiswi, selebihnya penonton baik itu keluarga, kawan ataupun undangan panitia.
Dr. Usamah Azhari (pmram.org)

Karena Kebebasan Itu Boneng

Google

Oleh : Muhibussabri Hamid
Kebebasan itu tidak bebas, sebab akan melukai kebebasan orang lain. Dalih yang mengatakan dibalik kebebasan berekspresi masuk akal. Namun jika yang dilukai berbalik bebas berekspresi juga masuk akal. Akan ada keadaan-keadaan dimana berbenturannya kebebasan yang satu dengan kebebasan lainnya. Ketika kebebasan seperti atau bahkan diakal-akalkan.
Kebebasan berkekspresi, kebebasan press, belum lagi kebebasan membunuh dengan alasan menjaga perdamaian justru akan menyebabkan efek yang berbahaya bagi siapa saja. Tidak ada yang salah dengan gajah yang menyerang tanaman dan manusia. Karena kebebasan mereka di reunggut di alam bebas. Apalagi manusia yang punya  anugrah akal dan hati.
Kondisi umat Islam seperti dibuat carut marut. Di Indonesia berbagai praktik kebebasan yang salah kaprah selalu jadi momok bagi umat. Jika mereka beralasan kondisi ini berasal dari umat Islam tentu tidak masuk akal. Karena Islam menjunjung tinggi kebebasan. Sangat jarang orang Muslim menyerang sebelum mereka diserang.
Sebagian orang yang menganggap dirinya pemikir hebat. Meletakkan kata kebebasan sesuka perutnya. Seperti ketika Islam membalas menyerang si penyerang maka mulailah mereka mulai bersorak lantang. Islam Teroris, Islam garis keras, Islam Anarkis dan lain sebagainya. Sebelumnya mereka tidak punya suara ketika si penyerang membabi buta meraja lela menyakiti orang Islam. Biasanya ini di lakoni para ahli sekuler dan liberal.

Seharusnya Media Juga “Berpuasa”


Oleh : Muhibussabri Hamid
Press sumber utama konsumsi informasi masyarakat. Baik yang bersifat nasional atau daerah. Begitu juga press sebagai media cetak atau media online. Kita sangat sangat terbantu dengan adanya media: baik untuk mengetahui info terbaru hingga membaca arus masyarakat dan mencari nilai-nilai yang terkandung didalamnya.
Pada dasarnya media berada ditengah-tengah, mereka sebagai penengah antara sumber berita dan konsumen atau pembaca. Sebaliknya kita juga tidak bisa menafikan, bahwa media juga punya tujuan tersendiri dalam menyajikan berita. Termasuk punya siapa media itu, siapa sponsornya, siapa pengisi rubrik-rubriknya.
Aceh sendiri memiliki banyak media. Baik  media cetak atau media online. Beberapa diantaranya media nasional namun mereka masih kalah saing dengan media Aceh sendiri. Bisa jadi karena konsumen lebih terfokus pada info Aceh, atau jangkauan media tersebut sudah meugampoeng/bisa didapatkan dengan mudah.
Minat baca media berkembang sangat pesat. Dulu mungkin hanya orang tertentu yang tertarik membaca berita atau hanya orang dewasa yang punya akses dalam konsumsi media online. Berbalik dengan keadaan sekarang, semua kalangan bisa mengakses informasi dari mana saja. Baik itu media cetak, media online bahkan radio meuigoe.
Tugas media tidak semata-mata menyajikan berita atau mencari nafkah sebagai pemilik dan pengisi rubrik. Ada fungsi edukasi bagi generasi kita ke depan, fungsi dakwah dalam menjaga stabilitas agama. Juga fungsi sosial untuk menjaga moral ureung Aceh.

" Kajuet Geureutoek Punggoeng dari Aceh "


Hati-hati Pemurtadan (google)
Oleh : Muhibbussabri Hamid 

Bukan sebuah kejutan ketika seorang muslim sanggup menetap di negara atau daerah non muslim dengan alasan dakwah atau belajar. Namun akan agak terkejut ketika kita mendapatkan non muslim yang notabenenya suka nyeleneh dan menyerang Islam sanggup menetap hidup di negara, daerah atau wilayah Islam. Walaupun realitanya di wilayah muslim mereka hidup lebih aman dan tentram dibandingkan kasus terbalik.



Realita ini persis seperti keranjingannya non muslim berdomisili di Aceh. Agak menggelitik ketika mereka mennghujat Syariat Islam dengan membabi buta."menekan lah, menyakiti kaum minoritas dan tidak sesuai HAM." Semntara mereka berusaha tinggal di negeri Syariat.


Dulu mungkin ada dalil kuat ketika tsunami meratakan hampir keseuruhan wilayah pantai Aceh. Sakarang alasan apa lagi yang mereka punya? Jika mereka punya kata " Syariat mendhalimi manusia" apa mereka tidak takut terdhalimi, ternodai atau terbunuh di Aceh. Kalau takut kenapa masih di Aceh coy?

Jika memang benar begitu adanya kenapa dengan salman Rusydi dengan ayat-ayat setannya dan beberapa dedengkot lainnya seperti irsyad Manji dengan gagahnya melesbikan Islam seperti nafsu syahwatnya. Yang kedua malah berani ke negara muslim membuka jalur legal transgender. Apa mereka tidak takut akan dubunuh oleh orang Islam yang mereka nodai?

Lalu berlanjut ke tokoh nasional. Tiba-tiba kita dihentak dengan tokoh besar homoseksual yang sudah menetap dan berhasil menghomokan urueng aceh. Ia mengaku bagian dari orang Aceh, namun dunia tau siapa dia!

Sanah Helwah IAIN Ar-Raniry



Kampus Iain (Google)
Oleh Muhibussabri Hamid

Al-Jami’ah al-Islamiyah al-Hukumiyah Ar-Raniry atau Institute Agama Islam Negeri Ar-Raniry ( IAIN Ar-Raniry) dikisahkan berumur hampir setengah abad. Ia telah berumur sekitar 49 tahun dalam belantika pendidikan Aceh. Mewarnai bengkok lurusnya pandidikan kita, jatuh bangun generasi dan carut marut pemerintahan terkhusus di Aceh.

Institute ini diresmikan pada tanggal 5 Oktober 1963, setelah dikeluarkannya Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1963. Dinisbahkan kepada Ar-Raniry seorang Ulama penasehat Kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani atau Iskandar II (memerintah tahun 1637-1641). Nama lengkapnya Syeikh Nuruddin Ar-Raniry, berasal dari Ranir (sekarang Rander) di Gujarat, India.

Pintu Gerbang Kopelma (Google)
Perjalanan iain telah melewati 11 kepemimpinan dalam hal ini rektor sebagai kepala. Di awal berdirinya Ar-Raniry hanya memiliki sekitar tiga fakultas saja. Namun kini sudah memiliki lima fakultas ditambah program pasca sarjana.
After and Before

Popular Posts

bilhalib.blogspot.com. Powered by Blogger.