Catatan Betmen

Mar 24, 2013

Catatan Syaikh Ramadhan Buthi

Fitnah demi fitnah
Diantara fitnah keji untuk Syeh Buthi, ketika ayah Asad meninggal terlihat Syeh Buthi bersedih dan mengeluarkan air mata. Sehingga kebencian orang bersebrangan dengan sunni dilampiaskan kepada beliau. Dengan mengatakan bahwa ia adalah penjilat pemerintahan syiah. Dalam kitabnya syeh buthi menjawab (termasuk dalam kitab Al-Jihad) kesedihan beliau bukan karena ia mencintai ayah Asad, namun karena ia melihat seorang pemimpin yang besar mati dan dihadiri oleh rakyatnya yang banyak ,mengantarnya ke kuburan tempat peristirahatan. Seorang pemimpin yang menganggap dirinya kuat, gagah perkasa akhirnya takluk dihadapan maut.

Kemudian  sebagian yang lain mengatakan Dr. Buthi adalah ulama yang dhalim mendukung kemungkaran yang dilakukan oleh Asad, dengan fatwa yang keluarkan menunjukkan bahwa beliau juga tidak mencegah kemungkaran tersebut . Dengan lantang Syeh Buthi menjawab bahwa "saya menanyakan kemana mereka yang mengatakan saya mendukung kemungkaran Asad, ketika Suria dalam bayang-bayang fitnah acara TV, sayalah satu-satunya yang mengharamkan dengan dalil-dalil syar'i sementara yang lain hanya terdiam membisu".

Selanjutnya fitnah yang mengatakan beliau tidak mendukung pembebasan negara muslim yan terjajah ditangan syiah keji, berarti beliau mendukung kekejian yang dilakukan syiah tersebut. Beliau balik bertanya "Kenapa mereka hanya mempertanyakan hal ini di Suria, namun ketika warga Palestina dibantai dan dari dulu sampai sekarang, tidak seorangpun dari mereka yang punya fatwa untuk berjihad membela al-Quds. Mereka cukup melihat kematian orang gaza, penguasaan jenin oleh yahudi dan mereka hanya mendengarkan apa yang diperintahkan pemimpin mereka, sekarang siapa yang penjilat?


Semilitan apapun sebagian golongan mereka, Fatwa mereka tidak pernah menyentuh Palestina. Mungkin masih segar dalam ingatan ketika ada ulama mereka yang mengharamkan demo yang dilakukan untuk mejatuhkan Mubarak di Mesir. Namun tiba-tiba ketika Mubarak hendak mengundurkan diri, fatwa tersebut berganti mejadi wajib dan yang paling aneh ketika harakah dan partai dilegalkan, partai merekalah yang pertama berdiri memproklamirkan. Nyan lawak!

Dan satu-satunya dakwah yang legal di Mesir ketika masa IM dibawah tanah adalah ulama-mereka. Kajian keislaman yang legal hanya milik mereka, sedang kajian kelompok lain haram secara qanun bahkan pengajian oleh ulama Al-Azhar saja tidak diizinkan. Jika ada yang membandel, tak segan penjara bawah tanah menanti. Lalu siapa yang dekat dengan pemerintah, justru yang tertuduh menjilat pemerintah Syeh Ali Jum'ah.

Jika kita tau !

Yang dihadapi di Suria bukanlah Husni Mubarak, Saddam Husain atau Muammar Khadafi namun Basyar Asad yang notabenenya merupakan syiah peminum darah selain dari golongan mereka, artinya mereka menganggap selain golongan mereka halal darah dan berpahala bila dibunuh (manhaj syiah).

Apakah Syeh Buthi tidak ingin Suria terbebas dari pemerintahan dhalim? Syeh Buthi selalu memahamkan orang-orang bahwa fatwa beliau bukan karena dia berdiri di belakang Asad untuk membantai orang Islam. Namun karena mudaharat terhadap kaum muslimin ditakutkan lebih besar nantinya. Akan sangat dhalim seorang mufti yang menggiring kaum muslimin untuk dibantai Asad seorang syiah yang dikenal ganas.

Alasan sebenarnya dari syeh Buthi adalah menunggu waktu yang baik supaya permbantaian muslim sunni dan genosida Harakah Islam tidak terulang kembali. Siapa yang tidak ingat pembantaian yang ulama sunni oleh kakek Asad. Jika kita melihat masa lalu suria, sebelum kakek Asad memegang kekuasaan. Suria negara tersebut betul-betul berada dalam chaos. Dalam hitungan bulan saja beberapa kali terjadi kudeta, perebutan kekuasaan mengakibatkan kematian rakyat yang luar biasa. Pada saat itu yang paling banyak korban adalah orang sunni. Bayangkan saja, antara satu kudeta ke kudeta sungguh keadaan yang sangat mengerikan dan berakhir di tangan kakek Asad.

Harakah Islamiyah yang ada di Suria kekuatan dan pengaruh mereka tidak seperti kekuatan harakah di Mesir. Ikhwanul Muslimin disana tidak punya pengaruh dan kekuatan yang cukup untuk menjaga stabilitas negara Suria jika nantinya terjadi chaos yang lebih besar. Padahal kita tau bahwa satu-satunya harakah yang pertengahan (tidak mutasyaddid) adalah ikhwan, selebihnya salafi, sekuler-liberal dan Kristen-non muslim.

Ketika pembumi hangusan Ikwanul Muslimin di kota Homs, pada saat itu tidak seorangpun berani menetang ayah Asad kecuali beliau, tanpa kenal rasa takut mati berunding agar Ikwan yang tersisa dibebaskan. Masih banyak pembunuhan yang dilakukan oleh Syiah tersebut di Suria yang membekas pada seorang  Syeh Buthi. Namun fitnah sudah terlalu menyebar sehingga menyebabkan beberapa ulama yang bersebrangan memfatwakan kehalalan darah Syeh Buthi.

Sesungguhnya ini bukan kebencian terhadap satu golongan lalu mendukung golongan yang lain, namun bentuk kesedihan ketika ada ulama mengeluarkan fatwa penghalalan disertai doa suul qalbi untuk ulama besar sekaliber Syeh Buthi. Rasulullah Saw. tidak pernah mendoakan hatta pamannya abu lahab dan yahudi yang mendhaliminya yang Jibril as. saja meminta izin pada nabi kaum tersebut untuk diditenggelamkan dalam perut bumi.
Sungguh sangat menakutkan hidup di zaman ketika merasa dan menyaksikan dengan nyata pembunuhan ulama se-alim Syeh Buthi. Semoga tidak ada lagi ulama besar yang akan meninggalkan kita disaat fitnah betul-betul terasa merajalela.

Se-kaliber Umar bin Khattab yang mendidih darahnya ketika tau nama- naman orang munafik di kalangan manusia setelah Rasulullah Saw. wafat tidak mengeluarkan fatwa mati dan menebas leher mereka. Lalu tanyakan siapa anda, ketika menghalalkan darah Syeh Ramadhan Buthi! Walaupun terlepas dari siapa pembunuh sebenarnya, baik itu kalangan syiah atau mereka. Yang jelas mereka ikut berbahagia sampai-sampai melaknat Syeh Buthi yang telah tiada.

Lalu saya !

Saya bukanlah cucu atau keturunan dari Syeh Buthi,  bahkan saya hanya meilhat beliau di foto, buku karangan beliau dan video pengajian. Seorang ulama sunni yang hanya ada beberapa orang saja di berbagai belahan dunia yang selevel dengan ilmunya. Keluasan dan kedalaman ilmu sangat terasa bila membaca karya-karya beliau. Puncak hidup dan kemuliaan beliau berakhir syahid, menemui ajalnya dan detik-detik tersebut sangat terasa berurat darah.

Namun tetap saja belum pernah saya merasa sekelu ini, perasaan dan jiwa seperti diinjak-injak, terhuyung hilang konsentrasi, berkali-kali mencoba melupakan kejadian tersebut. Namun ketika foto beliau, komentar dan berita-berita di media menyebutkan peristiwa tersebut, emosi dan kesedihan kembali tersulut. Ka seep nyoe sang, yang na meutamah icaah teuh lom! 

0 Coment:

Post a Comment

Popular Posts

bilhalib.blogspot.com. Powered by Blogger.