Catatan Betmen

Nov 4, 2013

Lembaga Fatwa Mesir dari Masa ke Masa

Doc. Google Image
Oleh: Faza Abdu Robbih
Ensiklopedi fatwa ulama Mesir dari fatwa sahabat Uqbah bin Amir, hingga Mufti Besar Mesir Syeikh Ali Jum’ah telah disusun sampai 22 jilid. Demikian pula dibukukan dalam 23 jilid fatwa Dar Al Ifta’ Al Mishriyah yang mencakup fatwa di masa Syeikh Hasunah An Nawawi menjadi mufti tahun 1895 hingga di masa Syeikh Ali Jum’ah dan fatwa yang tertulis dalam kumpulan ini sendiri mencapai 100 ribu fatwa (hidayatullah.com (13/3/2013)

Itulah salah satu prestasi Dar Al Ifta Al Mishriyah di masa kepemimpinan Prof. Dr. Ali Jum’ah selama masa kepemimpinan beliau sejak tahun 2003  dari banyak kesuksesan lainnya. Dan akhir Februari 2013 ini Syeikh Al Jum’ah melepaskan jabatannya selaku Mufti digantikan oleh Mufti Mesir yang baru, Dr. Syauqi Ibrahim Abdul Karim.  

Agar mengenal lembaga ini lebih jauh, maka tulisan ini berusaha untuk mengupas sejarah lembaga fatwa ini dari masa ke masa, posisinya dalam tatanan pemerintahan, lembaga-lembaga yang terdapat di dalamnya serta beberapa ulasan menarik lainnya. Selamat menikmati.  

Sejarah perkembangan Dar al-Ifta (Lembaga Fatwa Mesir)       
Lembaga fatwa Mesir merupakan lembaga fatwa pertama yang didirikan di dunia Islam. Lembaga ini didirikan pada tahun 1895 berdasarkan surat keputusan dari Khedive Mesir Abbas Hilmi yang ditujukan kepada Nidzarah Haqqaniyah No 10 tanggal tanggal 21 November 1895. Surat tersebut telah diterima oleh Nidzarah yang bersangkutan tanggal 7 Jumad al-Akhir 1313 nomor 55.

Kedudukan Lembaga Fatwa Mesir                      
Lembaga fatwa Mesir merupakan salah satu pilar institusi Islam di Mesir selain al-Azhar asy-Syarif, Universitas al-Azhar dan Kementrian Wakaf. Pada mulanya, lembaga fatwa Mesir merupakan salah satu lembaga yang berada di bawah naungan Departemen Kehakiman. Mufti agung Mesir selalu diminta pendapatnya tentang vonis mati dan sebagainya. Namun, tugas dan peran lembaga fatwa Mesir tidak terbatas di sana saja bahkan jangkauannya pun tidak hanya Mesir namun menjamah ke seluruh dunia. 

Hal itu dapat diketahui dengan banyaknya pertanyaan yang dilayangkan ke lembaga fatwa Mesir dimana para penanyanya berasal dari berbagai penjuru dunia, ditambah dengan diadakaanya pelatihan fatwa untuk mahasiswa asing. Terdorong dari faktor ini ditambah lagi dengan posisi lembaga fatwa Mesir yang selalu  dijadikan rujukan (marji’iah) karena metodenya yang moderat (tawasuth) maka Dar al-Ifta hingga saat ini selalu mengikuti perkembangan tekhnologi terkini agar dapat merealisasikan tuntutan ini semua.

Tugas Lembaga Fatwa Mesir                     
Secara global tugas lembaga ini terbagi menjadi dua; tugas keagamaan dan tugas yang berkaitan dengan pengadilan. Adapun tugas keagamaan, di dalamnya terdapat beberapa poin diantaranya; menerima permohonan dan pertanyaan fatwa serta menjawabnya dengan berbagai bahasa, menentukan setiap permulaan bulan hijriyah, mengadakan pelatihan fatwa kepada mahasiswa asing, mengeluarkan pernyataan resmi berkenaan dengan masalah keagamaan, menyusun riset-riset ilmiyah, menjawab kesalahpahaman terhadap Islam serta mengadakan sistem belajar jarak jauh.      
  
Adapun tugas lembaga fatwa Mesir yang berkaitan dengan pengadilan berupa pemberian keputusan menurut syarak terhadap vonis mati terhadap terdakwa. Dalam hal ini Mufti agung Mesir mengecek seluruh berkas yang ada (bukti-bukti dari awal hingga akhir) serta mencari dalil dalam agama dan pendapat para ulama terhadap kasus tersebut yang pada nanti akan dikembalikan kepada pihak kehakiman dalam pembacaan vonis terakhir.

Lembaga fatwa Mesir terus memperbaiki kinerjanya, hal ini terlihat dari bidang-bidang yang ada di dalamnya. Tak kurang dari lima bagian berada di bawah naungannya; bagian dewan fatwa, pusat riset Islam, pusat pelatihan fatwa, pusat terjemah, pusat komunikasi dan fatwa elektronik serta bidang-bidang pendukung. Selain bidang-bidang di atas lembaga fatwa Mesir juga memiliki tim khusus, diantarnya; tim khusus maqashid syari’ah dan tim pengawas dan sosialisasi data ilmiyah.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dimana setiap institusi dituntut untuk terus mengikutinya maka lembaga fatwa Mesir mulai melebarkan sayapnya dalam menyebarkan misi dan visinya. Berbagai cara dan media di tempuh diantarnya melalui website (yang dapat dilihat di www.dar-alifta.org, facebook, twitter hingga youtube), majalah, buletin bulanan, khazanah fatwa klasik (ensiklopedia yang berisi seluruh fatwa dari mufti pertama hingga terkini, bahkan diwacanakan seluruh fatwa ini akan dikomputerisasikan).

Sejak berdirinya hingga sekarang lembaga fatwa Mesir ini telah dipimpin oleh 19 mufti, dimulai dari Syeikh Hasunah an-Nawawi hingga mufti terkini Syeikh Syauqi Abdul Karim ‘Allam. Untuk lebih mengenal mereka maka kami akan cantumkan secara singkat biografi mereka satu persatu.

Syeikh Hasunah an-Nawawi (1895 - 1899). Tahun 1893 beliau lahir di Provinsi Asyuth. Ia juga menduduki beberapa jabatan penting, mulai guru besar di Fakultas Dar al-Ulum Universitas Kairo, Grand Syeikh al-Azhar menggantikan Syeikh Al-Inbani, mufti lembaga Fatwa Mesir pertama -sebelum Syeikh Muhammad Abduh- dari tahun 1895-1899 M. beliau pun berhasil mengumpulkan sekitar 287 fatwa selama masa jabatannya. Salah satu karya tulisnya yang terkenal adalah Sullam al-mustarsyidin fi ahkam al-fiqh wa ad-din. Beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 24 Syawwal 1343 H sekitar tahun 1924 M.

Syeikh Muhammad Abduh (1899 – 1905). Beliau lahir di Delta Nil tahun 1849 M dan meninggal di Iskandariyah 11 Juli 1905 M pada umur 55 atau 56 tahun. Beliau resmi menjabat sebagai mufti Mesir dengan dikeluarkannya surat resmi dari Khedive Abbas Hilmi. Kalau masa-masa sebelumnya jabatan mufti merangkap Grand Syeikh al-Azhar namun setelah turunnya surat keputasan tersebut maka Syeikh Muhammad Abduh menjadi Mufti pertama yang independen dari jabatan Syeikh al-Azhar. Selama 6 tahun masa jabatannya beliau telah menelurkan 944 fatwa dimana sekitar 80 persen fatwanya mencakup berbagai  problematika khususnya ekonomi dan harta.

Syeikh Bakr Ash-Shidfi  (1905- 1915). Lahir di Provinsi Asyuth. Masa hidup beliau selalu disibukkan dengan kegiatan mengajar, baik di masjid al-Azhar bahkan di rumah beliau sendiri. Hal ini juga yang membuat beliau tidak terlalu produktif menghasilkan karya tulis, bahkan karya-karya yang ada berupa beberapa pembahasan belum terbit hingga sekarang. Beliau meninggal pada bulan Maret 1919 M.  

Syeikh Muhammad Bukhit al-Muthi’i  (1915 – 1920). Lahir di daerah Muthi’ provinsi Asyuth. Seperti ulama lainnya kesibukan beliau pun sangat fokus untuk mengajar di al-Azhar. Syeikh yang bermazhab Hanafi ini juga banyak menelurkan karya diantaranya; Irsyadu al-ummah ila ahkam ahli adz-dzimmah, Haqiqah al-Islam wa ushul al-ahkam, Al-Qoul al-mufid fi ‘ilm at-tauhid dan lain-lainnya. Beliau menemui ajalnya tahun 1354 H atau 1935 M.  

Syeikh Muhamad Isma’il al-Bardisi (Enam bulan 1920). Beliau dilahirkan di Bardis, daerah di Jurja. Keilmuannya sangat terpengaruh dari keluarganya yang berilmu. Beliau termasuk salah satu murid Syeikh Jamal ad-Din Al-Afghani. Selama enam bulan menjadi mufti beliau dapat melahirkan 260 fatwa. Kesibukannya dalam kehakiman di Mesir membuatnya tidak banyak membuat karya tulis, salah satu karyanya yang berjudul Al-ittihaf fi ahkam al-auqof masih berupa manuskrip di perpustakaan al-Azhar.

Syeikh Abd ar-Rahman Qurra’ah (1921 - 1928). Lahir di daerah Bundar provinsi Asyuth. Selain mempelajari kitab-kitab Azhar beliau juga mendalami sastra, kamus-kamus Arab hingga menjadi seorang penyair dan salah satu pencetus kebangkitan bahasa Arab. Mufti pada masa Raja Fuad I ini telah membuat sekitar 3065 fatwa.

Syeikh ‘Abd al-Majid Salim (1928 - 1946). Terlahir di daerah Mayit Syuhalah, daerah Asy-Syuhada provinsi Munufiyah 13 Oktober 1882 M. Beliau berguru para Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Ahmad Abi Khotwah, Syeikh Hasan Ath-Thowil dan lain-lain. Beliau sempat menjadi Grand Syeikh al-Azhar dua kali. Pertama pada 1950 namun dilengserkan karena menentang pemerintah dan diangkat kembali pada 1952 M. Selama menjabat mufti beliau telah menyumbangkan 15 ribu fatwa.   

Syeikh Hasanain Muhammad Makhluf (1946 - 1950). Lahir di Bab al-Futuh Kairo 6 Mei 1890 M. Setelah tamat dari al-Azhar beliau sibuk menjadi hakim. Kemudian diangkat menjadi mufti pada 5 Januari 1946 M. Banyak karya tulis yang lahir dari tangan beliau diantaranya; syarh baiquniyah, hukm al-Islam fi ar-rifqi bi al-hayawan dan lain-lain. Karena kontribsinya terhadap Islam beliau mendapat penghargaan Internasional Raja Faisal (jaizah malik faishal al-‘alamiyah li khidmat al-Islam). Selama jabatannya beliau telah mengeluarkan sekitar 8588 fatwa.     

Syeikh ‘Allam Nashor  (1950 - 1952). Di Desa Mayt al-‘Iz Provinsi Munufiyah 20 Februari 1891 M beliau terlahir. Usai menyelesaikan studinya di al-Azhar beliau berkarir sebagai qodhi hingga diangkat menjadi mufti. Beliau mencurahkan seluruh usahanya untuk mengajar dan menjadi mufti. Karya-karyanya banyak berkisar pada masalah masalah fiqh namun belum tercetak hingga kini. Adapun jumlah fatwa selama jabatannya berkisar 2189 fatwa. 

Syeikh Hasan Makmun (1955 - 1964). Terlahir di kampung Abidin Kairo. Usai menyelesaikan belajarnya di al-Azhar beliau melanjutkan ke sekolah Qodho Syar’i. Selain menguasai bahasa Arab beliau juga pandai bahasa Prancis. Beliau ditugaskan sebagai qodhi bahkan hingga ke Sudan. Selain menjadi mufti beliau juga pernah menjadi Grand Syeikh al-Azhar ke 39. Sekitar 12311 fatwa berhasil dikeluarkan selama masa jabatannya.   

Syeikh Ahmad Muhammad ‘Abd al-‘Aal Huraidi (1960 - 1970). Lahir di Provinsi Bani suwaif 15 Mei 1906 M. Masuk Kuliyah Syariah di al-Azhar dan menjadi alumni pertamanya. Karena kedalaman ilmunya beliau ditunjuk menjadi mufti dalam beberapa periode dan dapat menghasilkan sekitar 8983 fatwa. Beliau wafat bulan Maret 1984 M.   

Syeikh Muhammad Khotir Muhammad al-Syeikh (1970 - 1978). Lahir di daerah Manzalah Provinsi Daqhaliyah tahun 1913 M. Selain menjadi mufti beliau juga menduduki beberapa posisi penting seperti anggota Majma’ buhuts al-Islamiyah, anggota Majlis ‘ala li asy-syuun al-Islamiyah seta ketua Dewan pengawas syaria’ah Bank Faisal. Selama menjadi mufti beliau berhasil mengeluarkan sekitar 2872 fatwa. Beliau berpulang ke rahmatullah pada 20 Januari 2004 M.     

Syeikh Jad al-Haq ‘Ali Jad al-Haq (1978 - 1982). Lahir pada 5 April 1917 di Provinsi yang sama dengan mufti sebelumnya. Beliau sangat terkenal dengan keilmuan dan kedisiplinannya. Tak heran beberapa jabatan penting di Mesir pernah beliau duduki mulai mufti Mesir, Mentri wakaf hingga Grand Syeikh al-Azhar. Beliau juga banyak membuat trobosan baru di lembaga yang dipimpinya. Di dar al-ifta beliau yang berinisiatif untuk mengumpulkan seluruh fatwa mulai dari mufti pertama hingga zaman beliau. Di kementrian wakaf beliau banyak mengadakan seminar untuk menjadikan para da’i dapat mengoptimalkan tugasnya.

Di al-Azhar sendiri beliau banyak melakukan banyak inovasi di antaranya; membuka cabang-cabang al-Azhar hingga ke daerah-daerah bahkan luar negri, membuka pintu selebar-lebarnya kepada para mahasiswa asing dan menambah beasiswa mereka. Pada masanya lembaga fatwa Mesir melahirkan sekitar 1284 fatwa. Tepat 15 Maret 1996 beliau menghembuskan nafas terkhirnya.   

Syeikh ‘Abd al-Latif Hamzah (1982 - 1985). Dilahirkan pada permulaan bulan Mei 1923  di Provinsi Delta Nil (Buhairoh). Selama tiga tahun menjadi mufti beliau telah menelurkan sekitar 1115 fatwa. 15 September 1985 M menjadi hari terakhir beliau di dunia ini.   

Syeikh Muhammad Sayyid Thanthawi (1986 – 1996). 28 Oktober 1928 menjadi awal kali beliau menghirup udara Provinsi Suhaj. Usai menamatkan doktoralnya dengan predikat imtiyaz tahun 1966 beliau banyak melanglang buana. Hingga pada 26 Oktober 1986 beliau diangkat menjadi mufti Mesir. Sepuluh tahun beliau menduduki kursi mufti dapat membuat beliau melahirkan 7557 fatwa. Pada 27 Maret 1996 beliau pun diangkat menjadi Grand Syeikh al-Azhar hingga wafatnya pada 10 Maret 2010 M.

Syeikh Nashr Farid Wasil (1996 -2002). Lahir pada 1937 M. Dilanjutkan dengan pengembaraan keilmuannya hingga dipinjamkan ke berbagai Universitas seperti Shan’a, Madinah, King Saud dan lain-lain. Tepat pada 10 November 1996 M beliau menjabat mufti. Dan menghasilkan sekitar 7378 fatwa dalam masa khidmahnya. Beliau akhirnya mundur dari jabatan ini karena sudah memasuki usia pensiun dengan berumur 65 tahun ketika itu. Hingga kini beliau masih hidup dan mengajar di pascasarana Universitas al-Azhar serta menjadi salah satu pembesar ulama di al-Azhar (Haiah kibar ulama al-Azhar). 

Syeikh Ahmad ath-Thayyib (2002 -2003). Lahir di ujung Provinsi Mesir (Luxor) pada 6 Januari 1946 M. Beliau berhasil menamatkan doktoralnya di Universitas al-Azhar pada 1977 dan pernah melakukan perjalanan beberapa bulan di Prancis atas undangan beberapa universitas di sana. Selama menjadi mufti beliau berhasil mengeluarkan sekitar 2835 fatwa. Beliau diangkat menjadi rektor Universitas al-Azhar kemudian Grand Syeikh al-Azhar hingga saat ini. Beliau pun yang pertama kali menggagas pembentukan Ikatan Alumni al-Azhar Internasional. 

Syeikh Ali Jum’ah (2003-2013). 3 Maret 1952 beliau dilahirkan di Bani Suweif. Selain menyelesaikan studinya di al-Azhar (hingga doktoral dan Profesor). Beliau juga menamatkan jenjang sarjananya (strata satu) di Fakultas Perdagangan Universitas Ain Syams. Beliau juga banyak mendapatkan sanad tertinggi dari para masyayikh. Beliau juga yang menghidupkan kembali halaqah-halaqah (talaqi) di masjid al-Azhar setelah beberapa saat fakum. Berkat usaha dan jerih payah beliau maka dar al-ifta sudah dapat go internasinal. Beberapa penghargaan juga diraih oleh beliau serta lembaga fatwa Mesir ini, baik dari kalangan muslim bahkan barat dan non-Muslim.

Syeikh Syauqi Ibrahim Abd al-Karim ‘Allam (2013-sekarang). Lahir di Delta Nil pada 1961 dengan bermazhab Maliki. Pendidikannya diselesaikan di Fakultas Syariah Univerisitas al-Azhar. Jabatan terakhir yang ia pangku adalah kepala Yurisprudensi Islam dan Hukum Syariah di Universitas al-Azhar, cabang Tanta dan kepala Departemen fiqih di Fakultas ilmu Islam atas rekomendasi Kesultanan Oman. Beberapa karya tulisnya menyoroti tentang ekonomi dan wanita.

Pengangkatan mufti kali ini berbeda dengan masa-masa sebelumnya dimana kali ini sang mufti dipilih dari seleksi para pembesar ulama-ulama al-Azhar bukan penunjukkan langsung dari Presiden sebagaimana yang terjadi pada beberapa mufti sebelumnya. Setelah menyaring beberapa nama calon mufti terpilihlah beberapa kandidat yang nantinya akan disaring menjadi lima kemudian tiga dan terakhir menjadi mufti terpilih.

Akhir tahun lalu Syeikh Ali Jum’ah mengeluarkan wacana untuk menyatukan lembaga fatwa di seluruh dunia. Respon berbeda terjadi dalam menyambut gagasan ini. Beberapa mufti menyetujui dan mendukungnya dan sebagiannya belum searah dengan pandangan eks-mufti Mesir ini. Berbagai argument pun coba diajukan namun belum menemukan titik temu. Namun penulis berharap mudah-mudahan adanya lembaga fatwa di berbagai dunia dapat menjadi corong penerang dalam memahai Islam dan menjadi agent pemersatu bangsa dan agama dan meminimalisir adanya fatwa-fatwa syadz dikalangan masyarakat. Allah wa rosuluhu ‘alam.

* Mahasiswa tingkat akhir Jurusan Hadis Fakultas Ushuludin Universitas al-Azhar dan Mahasiswa tingkat tiga Akademi Al-‘Asyiroh Al-Muhammadiyah Kairo




Oct 7, 2013

Bek Ta Rudah u Langet!

Google Image
Ketika kita mau berpikir maka banyak hal yang telah kita lakukan dimasa lalu tidak seharusnya kita lakukan. Hari sudah berlalu detik-detik keapaan tersebut sedikit demi sedikit membayangi, terkadang timbul penyesalan-penyelasan didalam lubuk hati sebagai bentuk rasa bersalah terhadap hal tersebut.

Mungkin  kita telalu tergesa-gesa ta'assub (rasa cinta) berlebihan terhadap kelompok atau kepentingan pribadi sehingga  tertutupnya mata hati. Atau justru karena hasil provokasi sebagian pihak atau media yang sangat susah untuk kita pilah. Semua alasan bisa jadi pemicu terhadap noda masa lalu atau bahkan sampao sekarang masih rajin kita lalukan!

Dalam dimensi berbeda dan konteks yang tidak sepenuhnya kita pahami ditambah dengan keterbatasan informasi,  pemaksaan komentar bernada hujat tidak henti-hentinya kita paksa untuk keluar dengan dalih membela kebenaran. Jika memang itu al-haqq, apakah kebenaran harus disampaikan dengan cara yang buruk? 

Masa lalu adalah keniscayaan, kita tidak bisa kembali dan menghapus deretan-deretan kekhilafan yang sudah menjelma. Tapi bukan tidak mungkin hal tersebut akan kita ulangi dimasa depan, bahkan terus dan terus berkali-kali tanpa sedikitpun menjadi pelajaran bagi kita. Bukankan pengalaman adalah guru yang paling berharga?
Sebutlah Komar (fiksi) dulu dia sangat mengagumi mantan Presiden Iran Ahmadinejad. Dia bahkan berani mengatakan bahwa beliaulah satu-satunya presiden di dunia yang bisa kita banggakan. Berhasil melawan hegemoni Amerika dan tegas terhadap kepntingan Islam. Pokoknya Iran the best powerful dan kiblat bagi Komar dalam segala hal. Dalam hiwar apapun vocab Iran selalu terselip. Namun ini cerita lima tahun yang lalu. Kini ia berubah menjadi manusia paling cerdas ketika berbicara mengenai kebobrokan negara Syiah tersebut.

Kemudian Jono (masih fiksi) yang mengklaim dengan sumpah pocong bahwa dia sangat membenci orang daerah tertentu. Hingga suatu saat ia bahwa dari pada menikah dengan wanita dari daerah tersebut. Lebih baik ia melajang seumur hidup. Ini juga cerita lima tahun yang lalu, sekarang jono sudah menikah dengan perempuan dari daerah yang dibecinya dan dikaruniai tiga anak, dua putra dan satunya lagi putri.

Rasa berlebihan tidak hanya berlaku untuk rasa cinta, tapi juga kebencian. Dalam banyak hal kita melihat orang-orang menghina kelompok lain dengan membabi buta. Tanpa menyadari bahwa cara kita mengeluarkanya sungguh sangat menyakiti. Kita punya cukup alasan untuk membenci dan mencintai dengan sesuatu, sehingga dengan mudah kita menghujat atau ta'assub buta. "Sesungguhnya yang mengejek lebih buruk dari yang mereka ejek" entah kaedah ini berlaku bagi kita.

Ada baiknya kita tidak menghukum sesuatu yang tidak kita pahami hakikatnya. Sesuatu yang tidak kita ketahui hakikat bisa jadi ketika ia dinampakkan oleh Allah kenyataannya berbalik dengan apa yang kita yakini. 

Rasa cinta yang berlebihan membuat mata hati tertutup dan hal ini berlaku pada kondisi sebaliknya. Adakalanya benci dan cintailah sesuatu sekedarnya saja. Karena bisa jadi suatu saat rasa tersebut akan berbalik, cinta menjadi benci dan benci menjadi cinta. 

Semoga tokoh Jono dan Komar menjadi ibrah bagi kita. Apalagi yang kita hina adalah ulama dan orang yang dekat dengan Allah Swt. Apa yang akan kita lakukan jika hijab dinampakkan oleh yang maha kuasa. 

Sep 29, 2013

Berubah Adalah Bernilai dan Berguna

Google Image
"Jika kita mati dunia dan seisinya dengan mudahnya melupakan kita. Jika kita hidup, dunia dan penghuninya akan melihat kita dengan dua macam cara. Pertama sebagai manusia yang akan menghancurkan dan kedua sebagai manusia yang akan bermanfaat bagi mereka" .

Perspektif manusia dan seluruh penghuni bumi tetap sama, sampai kapanpun tetap hanya terlihat satu wajah. Beberapa diantara kita mencoba bermain wayang dengan tubuh sebagai media utama. Sebagian yang lain akan bertopeng, mencoba sifat dan tingkah baru yang berbeda dengan tingkah yang mereka punya.

Iming dan berharap akan ada perubahan dengan cara pandang orang-orang terhadap kita, tapi justru proses yang kita usaha mati-matian tersebut hanya terus menambah rasa was-was mereka terhadap kita.

Jika saya jadi kita, maka solusi cerdasnya adalah kembali melihat lagi proses awal. Bisa jadi niat pertama kita untuk memperbaiki diri tersebut tidak dilandasi dengan tujuan yang baik, atau kita tidak paham dengan konsep dasar penilaan naturalnya manusia terhadap sesamanya, bahkan makhluk hidup lain sekalipun (baca : hewan dan tumbuhan serta jin).

Nilai manusia bagi manusia adalah berguna bagi mereka sedikit atau banyak. Dan sebaliknya ketidakbernilainya kita dimata mereka adalah minus manfaat terhadap kemaslahatan dalam berindividu, bermasyarakat dan beragama. 

Bagi sebagian yang lain bernilai cukup dengan slogan "jika tidak bisa membantu makan janganlah merusak". Dan ini rasanya cukup mewakili perasaan seluruh makhluk hidup, baik hewan dan tanaman bahkan alam ghaib sekalipun.

Dalam pemahaman dunia baru (moderen) dunia hanya terbagi dua yaitu dijajah atau terjajah, walaupun masih ada sedikit ruang bagi mereka yang hidup dengan filosofi lama.

Susah melacak bagaimana filosofi ini bisa mengisi ruang hati manusia. Apalagi setiap manusia memiliki strata hidup berbeda, dan kita tau setiap manusia mewarisi sifat ingin kaya, bersahaja serta berlimpah dengan kesenangan. (sajak malam)

Sep 21, 2013

Mengenal Madrasah Madzyafah

Madhyafah ini sangat populer dikalangan mahasiswa Azhar, terlebih bagi mereka yang haus dengan ilmu agama. Bagi pelajar asing yang menuntut ilmu disini (Mesir) khususnya dari Malaysia, Indonesia dan Thailand tentu sangat mengenal karakter madrasah yang satu ini (Mazhyafah).

Madrasah ini menerima murid dengan latar belakang apa saja, tanpa biaya dan syarat tertentu. Tidak mengutip biaya listrik, air atau biaya belajar mengajar. Dulunya hanya memiliki dua ruangan dengan kapasitas murid seratusan. Dan uniknya disini kita bisa memilih sendiri maddah (pelajaran) yang kita minati.

Mazhyafah sendiri menyusun jadwal pelajaran sesuai kebutuhan dan kesiapan pengajar. Mengingat sebagian besar pengajar madrasah ini notabenenya merupakan ulama besar atau duktur senior pengajar di Universitas Al-Azhar sendiri. Baik ulama pengajar di Mesjid Azhar maupun Duktur senior, kedua-duanya merupakan guru-guru piihan dan ahli dibidangnya.

Syeikh Ali Jum'ah (mufti Mesir 2003-2013) sendiri pernah mengajar di madrasah ini, beliau mengajar diawal-awal ketika madrasah ini baru didirikan. Ketika itu beliau mengajarkan Tafsir Surah An-Nisa. Dan sudah ma'ruf bahwa beliau merupakan salah satu Guru Besar Universitas Al-Azhar.

Disamping itu terdapat nama-nama ulama besar lainnya seperti Syeikh Thaha Rayyan yang mengajarkan Al-Mutawattha. Syeikh Fathi al-Hijazy dengan maddah Qatr an-Nada (dulu) dan al-Usymuny ‘ala Alfiyah Ibn Malik (sekarang). Syeikh Sayyid Shaltut, yang menamatkan Bidayah al-Hidayah (Ramadhan kemarin).


Profil Madrasah
Nama lengkap madrasah yaitu Madhyafah al-Syaikh Ismail Shadiq al-Adawy. Didirikan pada tahun 2000 M/1421 oleh Syaikh Yusri Muhammad Amin Jum’ah, salah satu murid Syaikh Ismail Shadiq al-Adawy. Sampai sekarang Syaikh Yusri masih menjadi pimpinan yang mengontrol langsung lembaga pendidikan ini.

Madrasah ini menggunakan sistem belajar langsung dengan Guru (syeikh). Memiliki tiga ruangan belajar mengajar. Terletak di wilayah Husein, distrik Darrasah, tepatnya persis di depan kampus al-Azhar.
====
*dari berbagai sumber.

Pawang Bala'

foto : ilustrasi



Bismillah…

Rakyat bertuah bercap sikurueng

Mari berkumpul di alun-alaun istana

Mendengar letak bala yang turun

Syarahan dari Pawang negara

                        Pawang Mala

Begitu bunyi isi pengumuman yang tertempel dipanteu jaga.
Konon saudara…

Kampung kami sedanng dilanda sengsara, duka dan derita. Bala yang dimulai sejak meninggalnya sembilan pemuda di 'Gampoeng Satu' terus berlanjut. Mereka diketemukan warga tergantung di pohon asan, tepatnya di pohon yang di daulat sebagai simbol persatuan Sikureung Gampoeng Naga.

Padahal sebelumnya, wilayah Sikureung Gampoeng Naga adalah wilayah terbaik, termakmur dan yang paling sentosa dari semua wilayah tenggara. Sembilan gampoeng wilayah anggota merupakan kumpulan wilayah adidaya dan sentral sebagai penyedia berbagai kebutuhan manusia. Mulai kebutuhan pertanian, perkebunan, kelautan, peternakan dan pusat keilmuan besar.

Semua rakyat di negara kami bahagia, berharta dan hidup berkecukupan. Negara menjamin rakyat tidak ada yang sengsara.

Alkisah kejadian dua hari setelah kejadian pertama, berlanjut di 'Gampoeng Kedua''. Kali ini giliran kaum bayi. Sembilan bayi raib tak berbekas, ditelan pekat malam. Mereka hilang dari ayunannya tanpa satupun orang tua yang menyadari. Kapan, kemana dan dimana.

Dua malam kemudian, ketakutan membaha di 'Gampung Ketiga'. Mendadak sembilan kuburan terbongkar, isinya menghilang. Tak tau siapa, mengapa dan untuk apa. Suasana semakin membuat mencekam. Rakyat mulai gelisah, berita menyebar semakin meluas.

'Gampung ke empat' dibuat tersentak, kalap dan panik. Mereka berada di hitungan selanjutnya. Berbagai perlengkapan disiapkan untuk menyambut siluman tak berbekas itu. Mulai dari peralatan beserta pasukan keamanan mereka datangkan dari kampung lain. Rakyat bersiaga penuh di 'Gampoeng ke Empat'. Semua mata Sikurueng Gampoeng Naga tertuju pada kampung empat.

Kali ini pun sikureung Gampoeng Naga bertambah tertekan. Ketakutan mereka semakin menjadi-jadi. Betapa tidak,  sepuluh janda muda hilang tak berbekas. Bahkan anak yang tidur disampingnya tidak sadar kapan ibunya hilang.

Mendadak, lagai-lagi mendadak. Bingung, semua pemimpin dari sikureung Gampoeng Naga bingung. Bagaiman mereka bisa memberikan pertanggung jawaban kepada Pawang Mala sebagoe  pimpinan pusat Sikureung Gampoeng Naga.

Tidak ada yang bisa berkomentar terhadap masaalah ini. Tak ada kambing hitam, yang ada hanya ketakutan.

Tibalah giliran 'Gampoeng Kelima' menjadi korban selanjutnya. Penduduk gagap dan pasrah terhadap semua kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Terserah apa dan siapa yang akan menjadi korbannya. Namun mereka juga berjaga-jaga, siapa tau bisa menangkap siluman tak berbekas itu.

Ternyata lagi-lagi mati kutu. Kali ini korbannya seikureung pemudi kampung ke lima.  Umur mereka berkisar sembilan belasan. Kejadian kali ini termasuk aneh dibandingkan kejadian sebelumnya di kampung kedua, ketiga, keempat, korban mereka raib semua. Namun agak mirip kejadian di kampung pertama, mayat mereka diketemukan tergantung di pohon asan. Namun bedanya, dikampung  kelima mayat mereka terduduk di depan rumah tanpa selembar pakaian pun. Padahal dalam aturan  'Sikureung Gampoeng Naga', ini merupakan aib bagi keluarga tersebut dan kaum sangat murka dengan pelakunya.
Selanjutnya masyarakat hanya bisa diam, tak ada yang berani berkomentar. Mereka diam tanpa kata, bisu mata, bisu lidah, bisu bahasa, jiwa dan tubuh semuanya.

***
Pawang Mala mulai betul-betul panik. Kejadian ini sungguh di luar kuasanya. Keesokan harinya ia mengumpulkan semua pembesar negeri 'Sikureung Gampoeng Naga'. Mulai pemimpin dari tiap-tiap distrik sampe seluruh mentri kaki tangan Negara.

Topik rapat jelas membahas masalah musibah besar yang mereka alami. Apa yang harus mereka lakukan untuk menahan laju kematian yang terus menggila di wilayah kesatuan mereka.
Alkalam rapat dimulai dari pembukaan oleh Pawang Mala sendiri. Selanjutnya dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban keamanan oleh Abu Leman selaku penangung jawab umum keamanan wilayah.
Para pembesar 'Sikureung Gampoeng Naga' terdiri dari sikureng pembesar yang agung. Lima diantarnya sebagai menteri dan empat lagi sebagai pawang atas tiap-tiap elemen yang mewakili wilayah. Rapat tertinggi hanya dihadiri empat eleman Pawang. Mereka adalah sesepuh sakti dan masyhur. Yaitu Pawang laot, darat udara dan uteun. Pawang Mala merupakan yang mulia pemegang tampuk kuasa berasal dari darat.

Kali ini rapat penting dan mendadak, tidak cukup empat Pawang saja yang berhadir. Sebab menyangkut nyawa rakyat.

Rapat berlangsung khidmat. Sesuai ketentuan Pawang Ngoeh, peserta rapat wajib memberikan masukan.  Diatara masukan yang masuk, tersebutlah masukan dari menteri kenegaraan yang paling dipertimbangkan. Ia mengusulkan, haruslah kita meminta bantuan kepad ahli ilmu ghaib yang tersebar seantero negeri. Agar mereka mencari tau apa dan siapa penyebab semua kejadian ini.

Bagi siapa saja yang mengetahuinya akan mendapatkan hadiah besar serta dijamian menjadi menantu Pawang  Mala. Jikalau informasi yang diberikannya salah, hukuman pancung menanti.

Bertepuk semua, tersebarlah maklumat nota pimpinan pusat ke seluruh pelosok gampoeng yang ditujukan untuk para tukang tenun negeri 'Sikureung Gampoeng Naga'. Hingga kejadian muram berlanjut kembali menerpa saudara kami di 'Gampoeng Enam'.

Terjadi kejadian yang lebih ganjil di kampung ini. Kampung enam adalah wilayah subur. Mata pencaharian utama mereka peternakan. Wajah mereka muram durjana, sembilan bibit sapi terbaik yang didatangkan dari luar wilayah kenegaraan mati. Hasilya  adalah sapi dengan mulut berbusa dan perut yang membusung, seperti menertawakan kesombongan bodoh yang selama ini mereka bangga-banggakan.
Skak mati !

Pawang Mala hanya bisa menggeleng ketika mendapat berita duka tersebut. Tak ada ahli ilmu ghaib yang berani berkunjung untuk memberi tau apa dan siapa pelaku kesengsaraan yang mereka alami selama ini. Terus menerus berlanjut, belum bisa dihetikan. Rakyat semakin merasa tidak tentram. Terusik terus terusik.

'Gampoeng tujuh' adalah korban selanjutnya. Warga kampung ini yang notabenenya para pelaut dibuat sedih bercampur trauma. Sembilan boat pencari ikan hilang ditelan gelapnya laut. Laut sumber kehidupan kini berbalik menelan mereka.

Rapat dadakan kembali digelar. Bersama empat pawang elemen tertinggi pemegang cap kenegaraan sebagai senator rakyat. Pimpinan berharap bisa segera mengakhiri rasa keputuasaan rakyat.

Setelah proses yang alot, notulen rapat mengumumkan bahwa empat pemegang  cap kenegaraan akan bermusafir ke kampung harimau. Tempat para sesepuh pawang bermukim. Nun jauh di dalam rimba raya. Tempat yang hanya diketahui para pawang. Konon menurut isu yang berkembang, tidak ada yang bisa kembali hidup-hidup dari sana selain para keturunannya.

Terlalu banyak syarat dan mekanisme melangkah kesana. Itulah kampung para pengabdi Tuhan, tanah bertuah nan bersahaja, penghuninya pemilik harimau rimba bertubuh manusia.

Perjalanan mereka akan memakan waktu seminggu lamanya. Informasi ini membuat rakyat menjadi was-was, antara hidup dan mati. Apalagi penghuni kampung ke delapan dan kesembilan. Saat-saat seperti ini waktu seminggu seperti setahun lamanya.

***
Akhirnya yang ditunggu tiba jua. Para pawang kembali dari pengembaraan. Tepat tengah malam. Tanpa menunggu lama Pawang Mala segera mengeluarkan dekrit. Isinya :

Bismillah

Rakyat bertuah bercap sikureung

Mari berkumpul di alun-alun istana.

Mendengar letak bala yang turun

Syarahan dari Pawang negara.
         
               Pawang Mala.

Dalam waktu singkat pengumuman sudah ditempel diseluruh pelosok desa. Rakyat mulai lega, setidaknya sudah sedikit terobati dengan pengumuman. Pawang  mereka sudah kembali dari perjalanan jauh, menjemput keselamatan.

Dengan keinginan yang sama, seluruh masyarakat berkumpul di alun-alaun utama istana. Semua Pawang sudah berdiri diatas podium. Sebagai seorang kepala mulailah Pawang Mala berbicara mewakili pawang yang lainnya.

Bismillahirrahmanirrahim…
Masyarakat kesatuan wilayah Sikureung Gampoeng Naga. Dahulu kala negara kita merupakan negara miskin terjajah. Hingga datangnya bala bantuan dari tanah bertuah. Membantu Negara kita hingga mandiri. Ada sebuah sumpah dari raja tanah bertuah terhadap negara kita. Yaitu dengan sembilan larangan yang mereka tinggalkan. Apabila larangan tersebut kita dekati. Maka keadaan akan berbalik seperti masa sengsara.

Sehingga dibagilah wilayah kita menjadi sembilan wilayah yang dinamakan Sikureung Anuek Naga dengan lambang Cap Sikureung. Nama dan lambang sebagai pengingat bagi semua. Apabila kesembilan hal larangan luput dari mata pewaris negara dan generasi muda- mudi, akan datang kutoek bala dari sembilan arah dan sembilan wilayah.

Sekarang kampung kita berada dalam lingkaran bala dan kutoek. Hasil buah tangan pewaris negara dan generasi. Buah pahit ini dinikmati semua orang tanpa kecuali. Seluruh pelosok negara tanpa terkecuali.
Raja bertuah mengatakan bahwa penyebab datangnya petaka kita ini adalah kita sendiri. Kita telah melanggar sembilan larangan tersebut. Sehingga bala datang menghampiri dari semua wilayah negara.
Adapun larangan tersebut adalah :
  1. Meninggalkan titah tuhan dan sabda Nabi.
  2. Meninggalkan Shalat fardhu dan shalat Jamaah.
  3. Raja memerintah dhalim.
  4. Meminta tolong kepada tukang tenun.
  5. Hilang rasa malu, wanita bebas membuka aurat.
  6. Fitnah buta dan saling bermusuhan.
  7. Anak yatim, fakir miskin kelaparan
  8. Ada jenazah yang tidak dikuburkan.
  9. Sibuk harta tak peduli ilmu.
Maka dengan ini, titah sesepuh dari tanah bertuan untuk menjauhi kembali larangan dari cap Sembilan (cap sikureung). Dan nama Sikureung Gampoeng Naga kita kembalikan lagi menjadi Sikureung Aneuk Naga. Dengan ini kita berharap semua kejadian tidak terulang lagi.

Aug 26, 2013

Tabayun, Oh Tabayun


Penyakit pertama yang akan saya alami ketika membuka facebook adalah merasa marah dendam dan agak meuapam. Kedua akan ada beberapa hal yang harus saya lakukan untuk menghilangkan rasa tersebut, diantaranya dengan beristhigfar atau mengambil wudhu atau menuntup kembali akun fb saya.

Bagaimana tidak, saya mulai terasingkan dengan berita-berita yang amat membahayakan pembaca yang jauh dari pengetahuan terhadap informasi yang dikonsumsinya. Saya pun merasa jika saya bukan ditanah ini, mungkin saya akan mengutuk dan mendoakan tokoh-tokoh yang digambarkan mereka dengan wajah yang buruk sekali.

Belakangan saya menghilangkan list sebagai bacaan beberapa website mutasyaddidin. Saya berhasil meninggalkan beberapanya lagi dengan dalih sebagai media dakwah yang baik dan mencerahkan. Paling tidak informasi yang mereka berikan lebih baik dan terpencaya dibandingkan media yang telah masuk blacklist. 

Dan hari ini sepertinya daftar hitam tersebut akan bertambah seiring perkembngan informasi yang mereka sajikan. Jika seandainya media sekuler berbicara, yang terambar adalah hanya kebohongan yang mereka sampaikan, atau bisa jadi sampah yang didaur untuk menjadi uang. Nah, kalau yang melakukannya adalah media Islam, alias media yang mengagungkan dan membawa nilai Islam, kira-kira bagaimana respon kita.

 Sir, kita juga media. Artinya kita bisa saja menyampaikan berita fitnah yang akan membuat luka, bernanah, bau dan berulat. Ketika kita membaca berita media yang kita klaim sebagai media fitnah dengan bertabayyun, maka selayaknya kita menetapkan standar yang sama terhadap media yang kita klaim media dakwah. Karena sebagai media, ruang fitnah berlaku pada semua media. Bagitu pandangan naif saya.

Akibat dari inbok beberapa rekan yang meminta konfirmasi terhadap berita nyut-nyut tersebut. Saya memberanikan diri mengecek dan mencari apa sebenarnya kejadian di dunia media Islam. Dan faktanya adalah sangat-sangat menegangkan. Beberapa hari tidak membaca berita, serasa saya sudah ditinggalkan bertahun oleh media tersebut (tanda kutip).

Bukan hanya satu berita yang menurut saya mengerikan, tapi banyak sekali yang semakin dibaca semakin membawa saya kepada emosi yang meluap-luap. Jika saya esmosi karena ketidakselarasan berita tersebut. Saya membayangkan esmosi si pembaca terhadap isi berita tersebut (baca ; termakan). Maka akan lahir doa-doa pengkafiran dan peliberalan serta pengutukan yang membabi buta.

Bagi saya, ada beberapa generalisasi yang saya takutkan ketika lebih jauh menatap beberapa laman website tersebut. Adanya kemungkinan penggiringan opini publik menuju pemburukan karakter terhadap golongan tertentu dengan membunuh karakter tokoh, sehingga lambat laun masyarakat akan mengklaim bahwa tokoh tersebut tidak bisa dipercaya.

Jikapun nanti tokoh ataupun golongan tersebut dibantai maka hal tersebut akan dianggap sah oleh khalayak. Dan kita persis melihat kejadian ini di Suriah, ketika Almarhum Syeh Buthi Syahid. Dengan sajian fitnah yang membabi buta. Dan faktanya adalah pembantaian masyarakat sipil oleh pemerintah Syiah. Dan siapa kira-kira yang akan menyelesaikan konflik disana? Oke, kita tidak membicarakan masa lalu, dan tidak melanjutkan klaim aneh.

Kemungkinan yang lain adalah adanya upaya pelepasan label azhar dari ahlussunnah yang menerima mazhab mu’tabar, menuju tidak bermazhab. Dan upaya ini telah dirancang berpuluh-puluh tahun yang lalu sehingga tidak  tertutup kemungkinan sekarang adalah waktu yang tepat untuk merealisasikannya. (Dan semoga keduanya tidak benar, artinya hana berada didalam pikiran saja).


(*Tulisan ini ditulis dengan rasa keanehan tersendiri, ketakutan akan fitnah dan ketakutan akan memfitnah.

Aku dan Duktur Abdurrahman (1)

Foto Ketika Menghadiri Acara Walimah Putra Duktur Abdurrahman

\“Jenazah gopnyan jino ka trok u rumoh…darah mantong meu jein-jein bak rinyeun”. (Fb : IjubKhan Tripa)

Menit pertama setelah diberitahukan bahwa duktur (panggilan kami terhadap ayahanda Dr. Abdurrahman Uwais) telah berpulang ke rahmatullah, yang kurasakan adalah laju bumi ini sedikit melambat. Dan rongga dada seperti disesaki raungan dan auman kesedihan.

Bola mata seperti akan basah, namun tetap harus kutahan. Teman-teman disampingku tau kalau berita ini sangat membuatku terpukul. Mereka tidak banyak bertanya, hanya mendengarkan kalimat perkalimat saja. Setelah itu kami kembali terdiam.

Sesaat aku tersenyum, beristhigfar dalam hati ,mencoba agar rasa sesak sedikit demi sedikit hilang. “beliau pantas mendapatkannya, beliau pantas mendapat pahala syahid, menuju pangkuan ilahi rabbi”.

Ayah rohani
Beliau itu, ayah rohani kami. Ayah yang selalu mengisi hati dengan mutiara suci, mengasah lidah kami dengan zikir dan menutup mulut kami dikala dunia dan seisinya saling menghujat serta mengkafirkan. Jikalau ada yang bertanya kepadaku kenapa penghuni rumah kami sangat berhati-hati menulis tetang konflik mesir, sepi hujatan-hujatan keji dan pengkafiran adalah karena beliau selalu menasehati kami untuk menjaga lidah dari keburukan dunia akhirat.

Beliau itu ahli ibadah, hafiz dan alhi tafsir. Bacaan disetiap shalat fardhu satu rubu dan setiap tarawih atau witir satu juz dengan bacaan beliau pun sangat lambat demi menjaga tajwid dan harakah agar tidak salah. Sangat sedikit jamaah di mesjid kami, hanya beberapa orang saja yang menjadi jamaah wajib.

Almarhum sangat zuhud, sederhana dan bersahaja. Aku tidak pernah meilihat beliau berpergian dengan mobil pribadi. Sepertinya beliau tidak punya mobil. Yang terparkir didepan rumah hanya mobil tetangga yang menyewa flat beliau. Berpergian untuk mengajar di Universitas Al-Azhar saja beliau tempuh dengan Metro (kereta api listrik). Tidak ada bedanya dengan kami yang mahasiswa.

Aku hidup bersamanya dalam tiga huru-hara, mulai dari masa Mubarak, Dr. Mursi dan As-Sisi. Namun yang kurasa adalah sikap dan kepribadian “mengajak kepada kebaikan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” beliau tetap tidak selangkahpun goyah. Beliau itu sudah berkali-kali keluar masuk penjara, namun Allah Swt. Selalu menyelamatkannya hingga ajal menjemput menemui rabb-Nya kemarin di medan rab’ah.

Beliau tidak pernah memberiku izin untuk mencium tangannya ketika kami bersalaman disetiap selesai shalat lima waktu, hingga subuh kedua hari raya kemarin, Ia memberikanku hadiah spesial yaitu mencium tangannya sambil dengan wajah tersenyum melihatku. Sebelumnya subuh 29 Ramadhan beliau mengajak kami (via kawan) untuk Shalat Ied di Medan Rab’ah. Namun kawan kami (fitra) menolaknya dengan halus karena kondisi memang betul-betul tidak memungkinkan.

Terus membekas
Duktur, kenangan ini tidak bisa kuhapus, air mata tidak bisa kubendung. Sungguh aku juga tidak bisa menjadi pribadi sepertimu. Namun aku akan terus menjaga pesan, kesan dan pelajaran berhargamu sebagai bekalan kehidupan dunia dan akhirat. Aku bukan seorang hafiz sepertinmu, penyabar yang ketika ditangkap dan diborgol hanya tersenyum manis sambil mengucabkan ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’. Tapi diketika berkhutbah suaramu membesar meneriaki kezaliman, layaknya singa yang siap menerkam mangsanya.

Sungguh air mataku berderai ketika membaca komentar “Jenazah gopnyan jino ka trok u rumoh…darah mantong meu jein-jein bak rinyeun”. Tak kuasa aku menahan tangis. Aku yakin, Allah melahirkan Abdurrahman-abdurrahman yang lain untuk menyambung risalahmu.

Aku tidak bersedih atas kepulanganmu kehadhirat ilahi rabbi karena itu janji-Nya, namun akan sangat menyakitkan bagiku jika tidak bisa mencium keningmu untuk terakhir kali.

**Hanya kepada Allah saja harapan ini kusandarkan.

  • Qatamea, 15 Agustus 2013.

Popular Posts

bilhalib.blogspot.com. Powered by Blogger.