Catatan Betmen

Sep 21, 2013

Pawang Bala'

foto : ilustrasi



Bismillah…

Rakyat bertuah bercap sikurueng

Mari berkumpul di alun-alaun istana

Mendengar letak bala yang turun

Syarahan dari Pawang negara

                        Pawang Mala

Begitu bunyi isi pengumuman yang tertempel dipanteu jaga.
Konon saudara…

Kampung kami sedanng dilanda sengsara, duka dan derita. Bala yang dimulai sejak meninggalnya sembilan pemuda di 'Gampoeng Satu' terus berlanjut. Mereka diketemukan warga tergantung di pohon asan, tepatnya di pohon yang di daulat sebagai simbol persatuan Sikureung Gampoeng Naga.

Padahal sebelumnya, wilayah Sikureung Gampoeng Naga adalah wilayah terbaik, termakmur dan yang paling sentosa dari semua wilayah tenggara. Sembilan gampoeng wilayah anggota merupakan kumpulan wilayah adidaya dan sentral sebagai penyedia berbagai kebutuhan manusia. Mulai kebutuhan pertanian, perkebunan, kelautan, peternakan dan pusat keilmuan besar.

Semua rakyat di negara kami bahagia, berharta dan hidup berkecukupan. Negara menjamin rakyat tidak ada yang sengsara.

Alkisah kejadian dua hari setelah kejadian pertama, berlanjut di 'Gampoeng Kedua''. Kali ini giliran kaum bayi. Sembilan bayi raib tak berbekas, ditelan pekat malam. Mereka hilang dari ayunannya tanpa satupun orang tua yang menyadari. Kapan, kemana dan dimana.

Dua malam kemudian, ketakutan membaha di 'Gampung Ketiga'. Mendadak sembilan kuburan terbongkar, isinya menghilang. Tak tau siapa, mengapa dan untuk apa. Suasana semakin membuat mencekam. Rakyat mulai gelisah, berita menyebar semakin meluas.

'Gampung ke empat' dibuat tersentak, kalap dan panik. Mereka berada di hitungan selanjutnya. Berbagai perlengkapan disiapkan untuk menyambut siluman tak berbekas itu. Mulai dari peralatan beserta pasukan keamanan mereka datangkan dari kampung lain. Rakyat bersiaga penuh di 'Gampoeng ke Empat'. Semua mata Sikurueng Gampoeng Naga tertuju pada kampung empat.

Kali ini pun sikureung Gampoeng Naga bertambah tertekan. Ketakutan mereka semakin menjadi-jadi. Betapa tidak,  sepuluh janda muda hilang tak berbekas. Bahkan anak yang tidur disampingnya tidak sadar kapan ibunya hilang.

Mendadak, lagai-lagi mendadak. Bingung, semua pemimpin dari sikureung Gampoeng Naga bingung. Bagaiman mereka bisa memberikan pertanggung jawaban kepada Pawang Mala sebagoe  pimpinan pusat Sikureung Gampoeng Naga.

Tidak ada yang bisa berkomentar terhadap masaalah ini. Tak ada kambing hitam, yang ada hanya ketakutan.

Tibalah giliran 'Gampoeng Kelima' menjadi korban selanjutnya. Penduduk gagap dan pasrah terhadap semua kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Terserah apa dan siapa yang akan menjadi korbannya. Namun mereka juga berjaga-jaga, siapa tau bisa menangkap siluman tak berbekas itu.

Ternyata lagi-lagi mati kutu. Kali ini korbannya seikureung pemudi kampung ke lima.  Umur mereka berkisar sembilan belasan. Kejadian kali ini termasuk aneh dibandingkan kejadian sebelumnya di kampung kedua, ketiga, keempat, korban mereka raib semua. Namun agak mirip kejadian di kampung pertama, mayat mereka diketemukan tergantung di pohon asan. Namun bedanya, dikampung  kelima mayat mereka terduduk di depan rumah tanpa selembar pakaian pun. Padahal dalam aturan  'Sikureung Gampoeng Naga', ini merupakan aib bagi keluarga tersebut dan kaum sangat murka dengan pelakunya.
Selanjutnya masyarakat hanya bisa diam, tak ada yang berani berkomentar. Mereka diam tanpa kata, bisu mata, bisu lidah, bisu bahasa, jiwa dan tubuh semuanya.

***
Pawang Mala mulai betul-betul panik. Kejadian ini sungguh di luar kuasanya. Keesokan harinya ia mengumpulkan semua pembesar negeri 'Sikureung Gampoeng Naga'. Mulai pemimpin dari tiap-tiap distrik sampe seluruh mentri kaki tangan Negara.

Topik rapat jelas membahas masalah musibah besar yang mereka alami. Apa yang harus mereka lakukan untuk menahan laju kematian yang terus menggila di wilayah kesatuan mereka.
Alkalam rapat dimulai dari pembukaan oleh Pawang Mala sendiri. Selanjutnya dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban keamanan oleh Abu Leman selaku penangung jawab umum keamanan wilayah.
Para pembesar 'Sikureung Gampoeng Naga' terdiri dari sikureng pembesar yang agung. Lima diantarnya sebagai menteri dan empat lagi sebagai pawang atas tiap-tiap elemen yang mewakili wilayah. Rapat tertinggi hanya dihadiri empat eleman Pawang. Mereka adalah sesepuh sakti dan masyhur. Yaitu Pawang laot, darat udara dan uteun. Pawang Mala merupakan yang mulia pemegang tampuk kuasa berasal dari darat.

Kali ini rapat penting dan mendadak, tidak cukup empat Pawang saja yang berhadir. Sebab menyangkut nyawa rakyat.

Rapat berlangsung khidmat. Sesuai ketentuan Pawang Ngoeh, peserta rapat wajib memberikan masukan.  Diatara masukan yang masuk, tersebutlah masukan dari menteri kenegaraan yang paling dipertimbangkan. Ia mengusulkan, haruslah kita meminta bantuan kepad ahli ilmu ghaib yang tersebar seantero negeri. Agar mereka mencari tau apa dan siapa penyebab semua kejadian ini.

Bagi siapa saja yang mengetahuinya akan mendapatkan hadiah besar serta dijamian menjadi menantu Pawang  Mala. Jikalau informasi yang diberikannya salah, hukuman pancung menanti.

Bertepuk semua, tersebarlah maklumat nota pimpinan pusat ke seluruh pelosok gampoeng yang ditujukan untuk para tukang tenun negeri 'Sikureung Gampoeng Naga'. Hingga kejadian muram berlanjut kembali menerpa saudara kami di 'Gampoeng Enam'.

Terjadi kejadian yang lebih ganjil di kampung ini. Kampung enam adalah wilayah subur. Mata pencaharian utama mereka peternakan. Wajah mereka muram durjana, sembilan bibit sapi terbaik yang didatangkan dari luar wilayah kenegaraan mati. Hasilya  adalah sapi dengan mulut berbusa dan perut yang membusung, seperti menertawakan kesombongan bodoh yang selama ini mereka bangga-banggakan.
Skak mati !

Pawang Mala hanya bisa menggeleng ketika mendapat berita duka tersebut. Tak ada ahli ilmu ghaib yang berani berkunjung untuk memberi tau apa dan siapa pelaku kesengsaraan yang mereka alami selama ini. Terus menerus berlanjut, belum bisa dihetikan. Rakyat semakin merasa tidak tentram. Terusik terus terusik.

'Gampoeng tujuh' adalah korban selanjutnya. Warga kampung ini yang notabenenya para pelaut dibuat sedih bercampur trauma. Sembilan boat pencari ikan hilang ditelan gelapnya laut. Laut sumber kehidupan kini berbalik menelan mereka.

Rapat dadakan kembali digelar. Bersama empat pawang elemen tertinggi pemegang cap kenegaraan sebagai senator rakyat. Pimpinan berharap bisa segera mengakhiri rasa keputuasaan rakyat.

Setelah proses yang alot, notulen rapat mengumumkan bahwa empat pemegang  cap kenegaraan akan bermusafir ke kampung harimau. Tempat para sesepuh pawang bermukim. Nun jauh di dalam rimba raya. Tempat yang hanya diketahui para pawang. Konon menurut isu yang berkembang, tidak ada yang bisa kembali hidup-hidup dari sana selain para keturunannya.

Terlalu banyak syarat dan mekanisme melangkah kesana. Itulah kampung para pengabdi Tuhan, tanah bertuah nan bersahaja, penghuninya pemilik harimau rimba bertubuh manusia.

Perjalanan mereka akan memakan waktu seminggu lamanya. Informasi ini membuat rakyat menjadi was-was, antara hidup dan mati. Apalagi penghuni kampung ke delapan dan kesembilan. Saat-saat seperti ini waktu seminggu seperti setahun lamanya.

***
Akhirnya yang ditunggu tiba jua. Para pawang kembali dari pengembaraan. Tepat tengah malam. Tanpa menunggu lama Pawang Mala segera mengeluarkan dekrit. Isinya :

Bismillah

Rakyat bertuah bercap sikureung

Mari berkumpul di alun-alun istana.

Mendengar letak bala yang turun

Syarahan dari Pawang negara.
         
               Pawang Mala.

Dalam waktu singkat pengumuman sudah ditempel diseluruh pelosok desa. Rakyat mulai lega, setidaknya sudah sedikit terobati dengan pengumuman. Pawang  mereka sudah kembali dari perjalanan jauh, menjemput keselamatan.

Dengan keinginan yang sama, seluruh masyarakat berkumpul di alun-alaun utama istana. Semua Pawang sudah berdiri diatas podium. Sebagai seorang kepala mulailah Pawang Mala berbicara mewakili pawang yang lainnya.

Bismillahirrahmanirrahim…
Masyarakat kesatuan wilayah Sikureung Gampoeng Naga. Dahulu kala negara kita merupakan negara miskin terjajah. Hingga datangnya bala bantuan dari tanah bertuah. Membantu Negara kita hingga mandiri. Ada sebuah sumpah dari raja tanah bertuah terhadap negara kita. Yaitu dengan sembilan larangan yang mereka tinggalkan. Apabila larangan tersebut kita dekati. Maka keadaan akan berbalik seperti masa sengsara.

Sehingga dibagilah wilayah kita menjadi sembilan wilayah yang dinamakan Sikureung Anuek Naga dengan lambang Cap Sikureung. Nama dan lambang sebagai pengingat bagi semua. Apabila kesembilan hal larangan luput dari mata pewaris negara dan generasi muda- mudi, akan datang kutoek bala dari sembilan arah dan sembilan wilayah.

Sekarang kampung kita berada dalam lingkaran bala dan kutoek. Hasil buah tangan pewaris negara dan generasi. Buah pahit ini dinikmati semua orang tanpa kecuali. Seluruh pelosok negara tanpa terkecuali.
Raja bertuah mengatakan bahwa penyebab datangnya petaka kita ini adalah kita sendiri. Kita telah melanggar sembilan larangan tersebut. Sehingga bala datang menghampiri dari semua wilayah negara.
Adapun larangan tersebut adalah :
  1. Meninggalkan titah tuhan dan sabda Nabi.
  2. Meninggalkan Shalat fardhu dan shalat Jamaah.
  3. Raja memerintah dhalim.
  4. Meminta tolong kepada tukang tenun.
  5. Hilang rasa malu, wanita bebas membuka aurat.
  6. Fitnah buta dan saling bermusuhan.
  7. Anak yatim, fakir miskin kelaparan
  8. Ada jenazah yang tidak dikuburkan.
  9. Sibuk harta tak peduli ilmu.
Maka dengan ini, titah sesepuh dari tanah bertuan untuk menjauhi kembali larangan dari cap Sembilan (cap sikureung). Dan nama Sikureung Gampoeng Naga kita kembalikan lagi menjadi Sikureung Aneuk Naga. Dengan ini kita berharap semua kejadian tidak terulang lagi.

Aug 26, 2013

Tabayun, Oh Tabayun


Penyakit pertama yang akan saya alami ketika membuka facebook adalah merasa marah dendam dan agak meuapam. Kedua akan ada beberapa hal yang harus saya lakukan untuk menghilangkan rasa tersebut, diantaranya dengan beristhigfar atau mengambil wudhu atau menuntup kembali akun fb saya.

Bagaimana tidak, saya mulai terasingkan dengan berita-berita yang amat membahayakan pembaca yang jauh dari pengetahuan terhadap informasi yang dikonsumsinya. Saya pun merasa jika saya bukan ditanah ini, mungkin saya akan mengutuk dan mendoakan tokoh-tokoh yang digambarkan mereka dengan wajah yang buruk sekali.

Belakangan saya menghilangkan list sebagai bacaan beberapa website mutasyaddidin. Saya berhasil meninggalkan beberapanya lagi dengan dalih sebagai media dakwah yang baik dan mencerahkan. Paling tidak informasi yang mereka berikan lebih baik dan terpencaya dibandingkan media yang telah masuk blacklist. 

Dan hari ini sepertinya daftar hitam tersebut akan bertambah seiring perkembngan informasi yang mereka sajikan. Jika seandainya media sekuler berbicara, yang terambar adalah hanya kebohongan yang mereka sampaikan, atau bisa jadi sampah yang didaur untuk menjadi uang. Nah, kalau yang melakukannya adalah media Islam, alias media yang mengagungkan dan membawa nilai Islam, kira-kira bagaimana respon kita.

 Sir, kita juga media. Artinya kita bisa saja menyampaikan berita fitnah yang akan membuat luka, bernanah, bau dan berulat. Ketika kita membaca berita media yang kita klaim sebagai media fitnah dengan bertabayyun, maka selayaknya kita menetapkan standar yang sama terhadap media yang kita klaim media dakwah. Karena sebagai media, ruang fitnah berlaku pada semua media. Bagitu pandangan naif saya.

Akibat dari inbok beberapa rekan yang meminta konfirmasi terhadap berita nyut-nyut tersebut. Saya memberanikan diri mengecek dan mencari apa sebenarnya kejadian di dunia media Islam. Dan faktanya adalah sangat-sangat menegangkan. Beberapa hari tidak membaca berita, serasa saya sudah ditinggalkan bertahun oleh media tersebut (tanda kutip).

Bukan hanya satu berita yang menurut saya mengerikan, tapi banyak sekali yang semakin dibaca semakin membawa saya kepada emosi yang meluap-luap. Jika saya esmosi karena ketidakselarasan berita tersebut. Saya membayangkan esmosi si pembaca terhadap isi berita tersebut (baca ; termakan). Maka akan lahir doa-doa pengkafiran dan peliberalan serta pengutukan yang membabi buta.

Bagi saya, ada beberapa generalisasi yang saya takutkan ketika lebih jauh menatap beberapa laman website tersebut. Adanya kemungkinan penggiringan opini publik menuju pemburukan karakter terhadap golongan tertentu dengan membunuh karakter tokoh, sehingga lambat laun masyarakat akan mengklaim bahwa tokoh tersebut tidak bisa dipercaya.

Jikapun nanti tokoh ataupun golongan tersebut dibantai maka hal tersebut akan dianggap sah oleh khalayak. Dan kita persis melihat kejadian ini di Suriah, ketika Almarhum Syeh Buthi Syahid. Dengan sajian fitnah yang membabi buta. Dan faktanya adalah pembantaian masyarakat sipil oleh pemerintah Syiah. Dan siapa kira-kira yang akan menyelesaikan konflik disana? Oke, kita tidak membicarakan masa lalu, dan tidak melanjutkan klaim aneh.

Kemungkinan yang lain adalah adanya upaya pelepasan label azhar dari ahlussunnah yang menerima mazhab mu’tabar, menuju tidak bermazhab. Dan upaya ini telah dirancang berpuluh-puluh tahun yang lalu sehingga tidak  tertutup kemungkinan sekarang adalah waktu yang tepat untuk merealisasikannya. (Dan semoga keduanya tidak benar, artinya hana berada didalam pikiran saja).


(*Tulisan ini ditulis dengan rasa keanehan tersendiri, ketakutan akan fitnah dan ketakutan akan memfitnah.

Aku dan Duktur Abdurrahman (1)

Foto Ketika Menghadiri Acara Walimah Putra Duktur Abdurrahman

\“Jenazah gopnyan jino ka trok u rumoh…darah mantong meu jein-jein bak rinyeun”. (Fb : IjubKhan Tripa)

Menit pertama setelah diberitahukan bahwa duktur (panggilan kami terhadap ayahanda Dr. Abdurrahman Uwais) telah berpulang ke rahmatullah, yang kurasakan adalah laju bumi ini sedikit melambat. Dan rongga dada seperti disesaki raungan dan auman kesedihan.

Bola mata seperti akan basah, namun tetap harus kutahan. Teman-teman disampingku tau kalau berita ini sangat membuatku terpukul. Mereka tidak banyak bertanya, hanya mendengarkan kalimat perkalimat saja. Setelah itu kami kembali terdiam.

Sesaat aku tersenyum, beristhigfar dalam hati ,mencoba agar rasa sesak sedikit demi sedikit hilang. “beliau pantas mendapatkannya, beliau pantas mendapat pahala syahid, menuju pangkuan ilahi rabbi”.

Ayah rohani
Beliau itu, ayah rohani kami. Ayah yang selalu mengisi hati dengan mutiara suci, mengasah lidah kami dengan zikir dan menutup mulut kami dikala dunia dan seisinya saling menghujat serta mengkafirkan. Jikalau ada yang bertanya kepadaku kenapa penghuni rumah kami sangat berhati-hati menulis tetang konflik mesir, sepi hujatan-hujatan keji dan pengkafiran adalah karena beliau selalu menasehati kami untuk menjaga lidah dari keburukan dunia akhirat.

Beliau itu ahli ibadah, hafiz dan alhi tafsir. Bacaan disetiap shalat fardhu satu rubu dan setiap tarawih atau witir satu juz dengan bacaan beliau pun sangat lambat demi menjaga tajwid dan harakah agar tidak salah. Sangat sedikit jamaah di mesjid kami, hanya beberapa orang saja yang menjadi jamaah wajib.

Almarhum sangat zuhud, sederhana dan bersahaja. Aku tidak pernah meilihat beliau berpergian dengan mobil pribadi. Sepertinya beliau tidak punya mobil. Yang terparkir didepan rumah hanya mobil tetangga yang menyewa flat beliau. Berpergian untuk mengajar di Universitas Al-Azhar saja beliau tempuh dengan Metro (kereta api listrik). Tidak ada bedanya dengan kami yang mahasiswa.

Aku hidup bersamanya dalam tiga huru-hara, mulai dari masa Mubarak, Dr. Mursi dan As-Sisi. Namun yang kurasa adalah sikap dan kepribadian “mengajak kepada kebaikan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” beliau tetap tidak selangkahpun goyah. Beliau itu sudah berkali-kali keluar masuk penjara, namun Allah Swt. Selalu menyelamatkannya hingga ajal menjemput menemui rabb-Nya kemarin di medan rab’ah.

Beliau tidak pernah memberiku izin untuk mencium tangannya ketika kami bersalaman disetiap selesai shalat lima waktu, hingga subuh kedua hari raya kemarin, Ia memberikanku hadiah spesial yaitu mencium tangannya sambil dengan wajah tersenyum melihatku. Sebelumnya subuh 29 Ramadhan beliau mengajak kami (via kawan) untuk Shalat Ied di Medan Rab’ah. Namun kawan kami (fitra) menolaknya dengan halus karena kondisi memang betul-betul tidak memungkinkan.

Terus membekas
Duktur, kenangan ini tidak bisa kuhapus, air mata tidak bisa kubendung. Sungguh aku juga tidak bisa menjadi pribadi sepertimu. Namun aku akan terus menjaga pesan, kesan dan pelajaran berhargamu sebagai bekalan kehidupan dunia dan akhirat. Aku bukan seorang hafiz sepertinmu, penyabar yang ketika ditangkap dan diborgol hanya tersenyum manis sambil mengucabkan ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’. Tapi diketika berkhutbah suaramu membesar meneriaki kezaliman, layaknya singa yang siap menerkam mangsanya.

Sungguh air mataku berderai ketika membaca komentar “Jenazah gopnyan jino ka trok u rumoh…darah mantong meu jein-jein bak rinyeun”. Tak kuasa aku menahan tangis. Aku yakin, Allah melahirkan Abdurrahman-abdurrahman yang lain untuk menyambung risalahmu.

Aku tidak bersedih atas kepulanganmu kehadhirat ilahi rabbi karena itu janji-Nya, namun akan sangat menyakitkan bagiku jika tidak bisa mencium keningmu untuk terakhir kali.

**Hanya kepada Allah saja harapan ini kusandarkan.

  • Qatamea, 15 Agustus 2013.

Jul 9, 2013

Risalah Bendera



Sejauh ini simbol menjadi hal sakral yang kadangkala membuat judgment pada seseorang. Umumnya simbol lebih pada sesuatu yang tertulis atau digambar. Perbedaan antara satu negara dengan negara lain pada simbol benderanya disamping pada hal lain.

Dunia mengenal simbol palu dengan sabit sebagai lambang komunis, lebih menarik lagi  yahudi dengan simbol-simbol aneh, sehingga oleh sebagian manusia dicap sebagai lambang setan. Sebutlah bintang david, mata satu, menorah, segitiga dengan mata diatas dan banyak lagi.

Dalam misi penjajahan ekonomi dunia, yahudi membawa simbol Unilever sebagai bentuk ikatan kekuatan produk. Maka jangan heran bila sebuah barang yang dilabeli dengan simbol Unilever sangat digemari oleh pelaku konsumsi. Dalihnya karena barang tersebut dianggap berkualitas baik dan teruji.

Tentu saja pemakai barang bermerek  ini juga merasa, mereka seperti bagian dari manusia kalangan atas dikarenakan barang yang mereka gunakan memiliki merek terkenal, ada dalam iklan di TV dan harga yang lumayan menggerogoti.

Agama pun tidak luput dari simbol, Islam yang lebih dikenal lambang bulan dengan bintang diatas tempat ibadah. Nasrani atau kristen dengan salib yang dikenakan di tempat-tempat ibadah, dirumah-rumah, digambar di badan atau sebagai hiasan yang digantung pada kalung leher. Hindu dengan patung dewa-dewa, Budha dengan patung budha. Hampir dalam berbagai hal kita sudah diikat oleh simbol-simbol.

Dalam banyak kasus simbol merupakan harga mati untuk diperjuangkan. Di Mesir Ikwanul Muslimin menjadi simbol yang menakutakan bagi Israel, Amerika, sebagian negara teluk, beberapa kelompok Kristen dan kalangan liberal sekuler. Sehingga sampai hari ini kita Mesir, Ikwanul Muslimin dan Mursi sang presiden terus digoyang dengan berbagai cara oleh mereka.

Drama demi drama berlangsung face to face. Propaganda licik pun tak segan diterapkan dengan tujuan pihak Ikwan, salafi dan pemerintah membalas mereka dengan kekerasan sehingga jalan menuju kudeta bisa lenggang dilakukan dan diaminkan dunia intenasional.

Dibelahan dunia Asia tepatnya Indonesia juga tak kalah saing, simbol ataupun label tak sekadar dianggap lambang saja, faktanya antara satu pihak dengan lainnya saling melempar simbol untuk menyikut dan memukul balik simbol kawan atau lawan politik. Label koruptor silih berganti dilempar sebagai pengalih isu satu sama lain.

Di Mesir Ikwan dan Salafi sebagai simbol Islam mati-matian mempertahankan Mursi sang presiden dari serangan pihak Syafik dan Amru Musa yang mengusung simbol liberal. Konon katanya sang liberal di back up Israel, Amerika dan sebagian negara teluk yang takut kepentingannya terganggu. Dan tentu saja ditambah ketakutan mereka akan diterapkannya syariat Islam. Dalih kegagalan Mursi dalam dalam mewujudkan janji-janji politik, dangkalnya pengusutan pembunuhan-pembunuhan masyarakat serta jatuhnya nilai mata uang mereka.

Di Indonesia rakyat sudah sangat lelah dengan simbol-simbol, bagi mereka simbol itu hanya sebuah Krong Pade (lumbung padi) yang didalamnya bersembunyi Tikoeh Teng (sejenis tikus dengan muka panjang kedepan) menghabiskan isi lumbung dengan dalih-dalih palsu. Kalaupun rakyat punya kucing (baca : KPK, Polisi) tetap saja tikoeh teng tersebut enggan dilirik apalagi dimakan kucing. Konon Tikoh Teng adalah jenis tikus yang tidak mau disentuh oleh kucing.

Hari ini Aceh gegap gempita, berbondong-bondong masyarakat menaikkan bendera yang merupakan bendera Aceh dengan lambangbintang buleun (bintang bulan). Ramai-ramai sahut menyahut kata-kata “merdeka”, “sibak rukok teuk” silih berganti diucapkan.

Jauh diujung nusa tenggara sana negara Timur Leste merdeka dari Indonesia. Tapi rakyatnya tidak jauh beda dengan situasi dulu ketika dalam genggaman NKRI. Yang lebih menyedihkan stabilitas kehidupan masyarakat masih terkatung-katung tanpa masa depan yang jelas.

Tentu ini tidak bisa kita samakan dengan Aceh, kita punya sumber daya alam yang banyak. Baik sektor migas, pariwisata, laut dan lain sebagainya. Jauh dari lubuk hati, kita berharap Aceh Merdeka. Namun tanpa menutup mata, seberapa baik Sumber Daya Manusia (SDM) yang kita punya, tentu akan menentukan sebanyak apa Sumber Daya Alam (SDA) yang bisa dinikmati rakyat kita. Untuk apa merdeka jika semua hasil sumber daya alam keluar menuju negara lain, sebulan setelahnya masuk lagi dengan harga meroket ke bulan.

Entahlah, di belahan Aceh autopsi simbol paling susah dan sakral. Salah korek lukanya bisa berdarah dan bernanah-nanah. Namun tetap saja kita harus berharap semoga di aceh simbol bukanlah kamuflase seperti label partai-partai di ibu kota. Yang memakai label sebagai tangga jabatan, memukul lawan dan mengeruk hasi keringat rakyat.

Juga bukan tidak seperti di Mesir, dengan cara-cara yang licik dan menyedihkan mereka berkerjasama dengan musuh gara-gara takut kehilangan pengaruh dan kepentingan. Juga Timor Leste, yang punya simbol namun tak rakyat mati sambil menatap simbol. Wallahu A’lam.
*Mh

Jul 2, 2013

Revolusi Wajah Keluarga Kita


Image Google

Layaknya manusia biasa, adalah lumrah ketika kita semampunya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menapaki jalan hidup secara normal. Lumrah juga ketika ternyata fakta sangat tidak berbanding lurus dengan keinginan kita.

Terlalu banyak hambatan yang menghadang, bahkan mungkin pro-kontra ketika kita kiranya sedikit dikoreksi oleh siapa saja mengenai cara, tingkah atau polah alpa yang kita anut dalam menyelesaikan hambatan hidup. Hal ini juga lumrah.

Sebuah langkah tuntutan umat telah kita lewati, yaitu transisi kepemimpinan. Tahap ini tentunya merupakan perpanjangan tangan dari kelanjutan estafet kita semua selaku mahasiswa. Mahasiswa Aceh di negeri para penuntut ilmu. Evolusi kepemimpinan yang terbentuk adalah manifestasi keinginan masa depan mahasisiwa Aceh yang sekarang aktif ataupun tidak dalam beraktifitas akademisi ataupun sebaliknya.

Langkah-langkah para pendahulu juga tak segan-segan mendukung berbagai statement argumentatif dan praktis terhadap kemajuan evolusi kita semua. Begitulah jaring-jaring kebersamaan yang telah kita rajut dalam wadah KMA.

Politik peraduan agen-agen pembahaharu kita disadari atau tidak sangat berbeda dengan gaya masyarakat masisir lainnya. Harapan tersirat dan tersurat kini mutlak sudah berganti jatah.

Tatanan Majlis Syura dan beberepa hari lagi tatanan pengurus harian akan dipilih lagi. Kita berharap pengganti mereka juga pemilik integritas dan kualitas sebagai pengawal sejarah kita. Para penjawab panggilan zaman dan tantangan.

Mereka haruslah mengawal nilai-nilai masyarakat kita seperti adanya. Terus memotori kepercayaan kaumnya. Gerak-gerik mereka dalam mengawal masyarakat harus sederhana dan bersahaja. Mereka harus mampu mengomunikasikan keadaan yang ada dengan tidak agresif.

Kemampuan berhadapan di depan retorika-retorika aneh juga dituntut.Simplenya mereka harus bisa dilaqab pasif dan pro akfif' dalam memperjuangkan ungkapan-ungkapan dan berbagai suara sumbang masyarakatnya.

Harapan kita tentunya mereka tulus ikhlas dalam membuat manuver-manuver dan terobosan perubahan kearah yang lebih baik. Mereka juga harus memastikan agar tidak membuat warisa tanggung jawab sejarah leluhur ke liang keterpurukan.

Kesadaran masyarakat sebagai pengawal pengurus tak terbantahkan. Masukan-masukan demi tercapainya cita-cita KMA kita pada umumnya dan tujuan khusus lainnya harus terus di suarakan. Mutlak diharapkan partisipasi yang nyata demi kekarnya langkah mereka. Tentunya bukan hanya saat menerima hasil atau minhah saja.

Kita harus menyadari bahwa mereka berada pada posisi penjaga kebun yang akan mengolah, merawat atau menjaga kebun dari serangan berbagai hama penyakit. Maka juga sudi kiranya kita memaklumi cara, gaya mereka dalam mengingat kealpaan kita ketika kiranya melakukan kesilapan-kesilapan yang bisa menggiring kepada kerusakan.

Hal yang mungkin menjadi cacatan jempol adalah kepercayaan dan menghargai. Harga kepercayaan bagi keutuhan sebuah wadah kebersamaan adalah ibarat kapak bagi penebang, cangkul bagi petani dan lain-lain sebagainya.

Percayalah, mereka akan membawa masyarakatnya kearah yang lebih baik. Kalian mampu menggiring masyarakatmu ke tujuan mereka dengan selamat.

Selanjutnya menghargai, adalah sebagai rasa menghormati usaha dan keringat mereka maka seharusnya menjaga perasaan mereka dari kehilangan semangat dan rasa ikhlas. Celaan yang tidak beralasan hanya akan berpengaruh pada kualitas kerja. Kalaupun kecatatan menimpa harus ada cara lain yang lebih propesional dan kultural tentu menjadi pilihan yang lebih bijak. Dan ini harus kita lumrahkan.

Yang Pasif dan Defensif

Kaum wanita menjadi perhatian masyarakat disekitar kita, perilaku tingkah dan gaya menjadi patokan masyarakat masisir khususnya KMA dan mesir umumnya. Selayaknyalah mereka mejaga aturan dan garis-garis batasan. Supaya langkah dan aktifitas terjaga dari berbagai unsur penganiaan atau ulah yang tidak senonoh.

Pasif defensif tidaklah sebagai maksud untuk memberi atauran keras atau sifat fanatisme yang berlebihan. Ini hanya sebagai bahan masukan. Dua kata ini bukanlah sebagai tuntutan, namun hanya sebatas kata saran.

Artinya setiap dari perempuan berhak aktif dan kritis. Hanya saja aktif dan kritisnya mereka harus dibarengi dengan pasif defensif. Terlebih dalam beberapa hal, misalkan saja dalam berinteraksi dengan lawan jenis.

Jangan juga terlalu fanatik, seakan menutup diri dan tak mau berhubungan sedikitpun. Ataupun sebaliknya seakan interaksi kita tiada beda antara laki-laki dan perempuan. Hendaknya hal ini menjadi bahan pertimbangan kita bersama.

Kaum perempuan tidak sedikitpun bisa melepaskan diri dari tatanan masyarakat. Sederhanya, mereka juga para pejuang dalam mewujudkan cita-cita kita bersama. Sekiranya kesadaran mereka akan sangat penting bagi perubahan kita ke depan.

Sekali lagi, ukuran keberhasilan dan kemenangan kita semua bukanlah hanya di dunia saja. Namun juga perubahan untuk nantinya di akhirat. Keberhasilan juga bukanlah berhasilnya para individu saja. Namun adalah berhasilnya kita semua menuju ke tempat tujuan dengan selamat. Our jurney our destinity.

Wallahu A'lam bisshawab.
Oleh : Muhibussabri Hamid
Tulisan ini sudah pernah di muat pada Buletin el-Asyi

Jul 1, 2013

Selamat Pagi Masisir!

image google


Tepat di pusara PPMI masa bakti 2011-2012, kita merenung sejauh mana sudah masisir berjalan, seelok mana drama yang telah dilakoni para artis pilihan. Ada baiknya kita kembali melihat plus-minus, pro kontra geliat para stake holder kita. Ibarat berdiri di depan kuburan, mayat yang baru dikubur. Setiap kepala yang berdiri akan disuguhi bayang-bayang si mayat ketika hidup. Dengan tingkah, gaya, keberhasilan, kegagalan dan momen tertentu.

Hasil preview dari rekaman tersebut setidaknya akan menjadi acuan kecil bagi kita. Bukan konsep lah, hanya sekadar timang-timang, bisa sebagai pembanding atau ukuran. Mau tidak mau, pengurus PPMI 2012-2013 yang baru harus siap menjadikan dekade sebelumnya sebagai ukuran atau patokan dalam membangun pondasi dasar di masa kekuasaan mereka.

PPMI bukan sekedar organisatoris, acara diskusi ilmiyah atau rapat heboh selama berhari-hari. Namun di sana ada memberi naungan yang hangat di musim dingin dan angin yang segar di musim panas. Prolong keamanan bagi masisir harus menjadi garis pertama dalam program PPMI 2011-2012. Kairo sedang ganti kulit, ada banyak kejahatan mengintip di berbagai sudut.

Pengurus harus cekatan dan kuat dalam membangun jembatan-jembatan antar masisir. Antara satu kekeluargaan dengan lainnya, atau sesama senat bahkan PPMI sendiri dengan masyarakat. Jangan lah, pejabat PPMI terlalu segan untuk sekadar disalami rakyatnya.

Potret terbaru yang mulai berdebu adalah hubungan masisir dengan pejabat perwakilan Republik Indonesia, diwakili Pak Dubes baru. Ada nuansa individual dalam menanggapi isu masisir. Sehingga perlu adanya konsolidasi bertahap dengan mereka. Seperti cerita di atas Dubes bukan sekedar ada, tapi careresponsibility and listening dengan suara masisir .

Sesekali, PPMI harus berani mengawal ayunan KBRI. Paling tidak info pembangunan asrama Mahasiswa diketahui publik, berapa persen pembangunannya. Konon, asrama tersebut kadang tenggelam kabarnya. Kita bukan meminta, hanya sekadar berharap, masi banyak kawan-kawan yang sangat butuh asrama mengingat kehidupan kairo yang semakin meninggi.


Muhibussabri Hamid
Mahasiswa Al-Azhar Fak. Syariah Wal-qanun Jur. Qanun

May 14, 2013

Who Is The Next Legends?


Google Image


Kepengurusan organisasi Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) periode 2011-2012 menghitung hari. Pengurus masa amal 2011-2012 bersiap melaporkan seluruh hasil kegiatan yang telah terprogramkan, baik yang terlaksana atau tidak. Pengurus harian (BPH) dan seluruh koordinator bidang sibuk mempersiapkan laporan tertulis, untuk dibukukan dan menjadi pertinggal kepengurusan periode selanjutnya.

Organisasi kita KMA sebagai induk organisasi masyarakat Aceh khususnya mahasiswa di Kairo, merupakan satuan perkumpulan yang sudah lama, jauh sebelum PPMI lahir kita sudah terbentuk. Menjaga, menaungi, berkumpul dalam kebersamaan dan kekompakan, demi mewujudkan KMA yang berdikari, berilmu dan beramal.

Mewujudkan KMA sebagai qudwah dan wadah aktualisasi diri  yang profesional untuk meraih multi berprestasi adalah merupakan visi jelas untuk keberlangsungan detak jantung KMA. Dengan kebersamaan yang kuat, walaupun tujuan ini besar, namun bisa sama-sama kita pikul membawa ke jalan yang lurus.

Keseharian pengurus tidak jauh beda dengan warga, mereka juga punya aktifitas manusiawi. Kuliyah, belajar dan juga aktifitas normal berlaku bagi mereka. Maka wajar ketika ada warna kusam disana sini. Mereka bukan kesempurnaan, akan tetapi manusia yang belajar sedikit demi sedikit agar lebih bermakna. Semoga dengan KMA kita bisa beramal juga berprestasi.

Kemana Sudah KMA?

Jauh sudah kita berjalan, memikul, memapah organisasi ini. Dengan segala keterbatasan kami sebagai insan tentu tidak luput dari berbagai kekurangan. Sejauh ini, kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk terus berada dalam jalur. Hingga hari ini, garis ini kami menemukan batas kami terhadap tanggung jawab sebagai pengurus.

Tetu saja hari esok masih ada, masih banyak hari-hari lain yang bisa kami berikan untuk KMA. Mungkin dalam episode lain, seperti ide, dorongan moril dan dukungan demi kokohnya KMA di masa depan.

Pengurus ibarat tim lari estafet, kita tidak bisa berlari sendirian. There is no one men show. Kita butuh kebersamaan, kawan-kawan yang selalu mendukung, yang mau memberikan sedikit pikiran dan meluangkan sedikit waktu. Akan ada batas bagi seseorang untuk berlari. Setiap dari kita punya sekali putaran, tidak lebih. Selanjutnya tongkat itu harus kita serahkan kepada pelari selanjutnya. Dan sekarang kami berada di batas garis itu.

Estafet menuju batas, harus ada pelari selanjutnya yang melanjutkan perjuangan ini. We need more legends, to keep our nature. And where is the legends? Who are they? Mereka adalah kita, kalian dan semua warga KMA. Mereka yang telah kita bina, kita jaga, kita didik, kita bimbing untuk menjadi bisa menjadi kudwah dan uswatun hasanah yang ideal untuk masyarakat KMA.

Muhibussabri Hamid*
Sekretaris II KMA Masa Amal 2011-2012

Mar 24, 2013

Mursi dan Ongkos Angkot!

Lee keedah, ana adfak kullu youm bigineh wa nush (kenapa seperti itu, saya setiap hari bayar 1,5 pound mesir). Begitu perdebatan harga ongkos tramko (red. angkot) dari jalan Mauaf Zahra menuju Mauaf El-Marg Gadidah. Berlarut-larut berputar kesana kemari mulai dari kesalahan pengemudi sampai masalah politik Mesir sahut menyahut. Menariknya penumpang lainpun pada ikut terbawa ketika Pak Tua tersebut membawa masalah politik dalam debat biaya tumpangan mobil antar jemput.

Why we always depend you Gaza!

Kenapa kita harus mendukung Palestina, bukankah disana 50% didominasi yahudi, sedang muslim dan kristen setengah sisanya.
Ya, benar sekali setengah dari perseratus warga Palestina adalah kaum yahudi. Sedangkan muslim setengah sisanya itupun harus dibagi dengan kristen yang berdomisili disaana. Penting juga kita melihat kenapa kita hanya melihat setengah sisa tersebut. Dan jika dalam beberapa tahun kita tidak memperhatikan muslim disana, mungkin mereka tersisa hanya sekitar 30 % saja.
Kita kembali ke belakang sebelum wilayah Palestina dikuasai Inggris, kemudian dihibahkan untuk yahudi, dengan batas, perjanjian dan aturan dengan kaum muslimin. Saat itu yahudi di sana minoritas sekali dan mereka hanya diberi beberapa wilayah untuk ditempati. Bertahun-tahun setelahnya mereka terus memasok yahudi dari negara lain untuk di tempatkan di Palestina.
Lalu setelah mereka merasa kuat, mereka mulai melanggar batas perjanjian. Mengusir muslimin dari rumahnya kemudian mengambil tanah mereka. Kemudian hal tersebut terus mereka lakukan hinggan bertahun-tahun lamanya sampai mereka mendeklarasikan negara israel. PBB mengakui bahwa yahudi tidak memiliki hak untuk mengusir dan membunuh kaum muslimin Palestina. Perlakuan mereka terhadap muslim tidak bisa ditoleransi. Namun pernyataan dan kecaman dengan santai dikebiri israel.

Catatan Syaikh Ramadhan Buthi

Fitnah demi fitnah
Diantara fitnah keji untuk Syeh Buthi, ketika ayah Asad meninggal terlihat Syeh Buthi bersedih dan mengeluarkan air mata. Sehingga kebencian orang bersebrangan dengan sunni dilampiaskan kepada beliau. Dengan mengatakan bahwa ia adalah penjilat pemerintahan syiah. Dalam kitabnya syeh buthi menjawab (termasuk dalam kitab Al-Jihad) kesedihan beliau bukan karena ia mencintai ayah Asad, namun karena ia melihat seorang pemimpin yang besar mati dan dihadiri oleh rakyatnya yang banyak ,mengantarnya ke kuburan tempat peristirahatan. Seorang pemimpin yang menganggap dirinya kuat, gagah perkasa akhirnya takluk dihadapan maut.

Kemudian  sebagian yang lain mengatakan Dr. Buthi adalah ulama yang dhalim mendukung kemungkaran yang dilakukan oleh Asad, dengan fatwa yang keluarkan menunjukkan bahwa beliau juga tidak mencegah kemungkaran tersebut . Dengan lantang Syeh Buthi menjawab bahwa "saya menanyakan kemana mereka yang mengatakan saya mendukung kemungkaran Asad, ketika Suria dalam bayang-bayang fitnah acara TV, sayalah satu-satunya yang mengharamkan dengan dalil-dalil syar'i sementara yang lain hanya terdiam membisu".

Selanjutnya fitnah yang mengatakan beliau tidak mendukung pembebasan negara muslim yan terjajah ditangan syiah keji, berarti beliau mendukung kekejian yang dilakukan syiah tersebut. Beliau balik bertanya "Kenapa mereka hanya mempertanyakan hal ini di Suria, namun ketika warga Palestina dibantai dan dari dulu sampai sekarang, tidak seorangpun dari mereka yang punya fatwa untuk berjihad membela al-Quds. Mereka cukup melihat kematian orang gaza, penguasaan jenin oleh yahudi dan mereka hanya mendengarkan apa yang diperintahkan pemimpin mereka, sekarang siapa yang penjilat?

Popular Posts

bilhalib.blogspot.com. Powered by Blogger.